Samarinda, Busam.ID – Sekitar 600 umat Hindu di Samarinda mengarak ogoh-ogoh dalam rangkaian ritual pengerupukan menjelang Hari Raya Nyepi 1447 Tahun Saka di Pura Jagat Hita Karana, Jalan Sentosa, Rabu (18/3/2026).
Ketua Parisada Dharma Hindu Indonesia (PHDI) Kota Samarinda, Putu Subrata, menjelaskan pengerupukan dimaknai sebagai upaya menetralkan unsur negatif atau buta kala, baik dari dalam diri manusia maupun lingkungan.
“Yang dalam diri kita ini bagaimana kita menyucikan sifat-sifat malas, marah, semuanya itu kita redam sehingga besok saat nyepi kita bisa berpuasa dengan aman,” jelasnya.
Dalam pawai tersebut, ogoh-ogoh dibuat dengan bentuk menyeramkan sebagai simbol kekuatan jahat, ditandai dengan mata besar, taring panjang, hingga tubuh besar. “Bentuknya menyeramkan, matanya besar, taringnya panjang, sebagai simbol melawan kejahatan,” katanya.
Setelah prosesi pengerupukan, menurutnya ogoh-ogoh dimusnahkan dengan cara dibakar sebagai simbol berakhirnya energi negatif dan kembali ke alam. “Ogoh-ogoh itu dimusnahkan, dibakar, kembali ke alam,” jelasnya.
Selain itu, rangkaian ritual juga diisi dengan upacara Taur Agung Kesanga sebagai bentuk pembersihan alam semesta dari pengaruh negatif.
Tahun ini, Putu menyebut perayaan Nyepi mengusung tema Basu Dewa Kutumbaka yang bermakna seluruh umat manusia adalah satu keluarga tanpa membedakan latar belakang.
Umat Hindu akan menjalani Catur Brata Penyepian selama 24 jam dengan 4 pantangan utama, yakni tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak menikmati hiburan. “Tujuannya supaya kita bisa menaklukkan kejahatan dalam diri dan di alam,” tutupnya. (uca)
Editor: M Khaidir


