Serapan Fisik APBD Rendah, Pemkot Balikpapan Dikunjungi Kemendagri dan Setkab

BusamID
Serapan rendah, maka sejumlah kegiatan fisik dikebut untuk memenuhi target penyerapan anggaran di Balikpapan. (foto by man)

Balikpapan, Busam.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan menargetkan serapan anggaran fisik pada tahun 2022 ini dapat mencapai 95 persen.

Pj Sekretaris Daerah Kota (Sekdakot) Balikpapan Muhaimin mengatakan, hingga saat ini realisasi penyerapan anggaran fisik telah mencapai 85 persen, dengan keuangan mencapai 60 persen.

Hal itu disampaikan Muhaimin usai menerima rombongan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Sekretariat Kabinet (Setkab) terkait pemantauan kinerja anggaran pendapatan dan belanja daerah di Kota Balikpapan.

Menurutnya, kedatangan rombongan ini karena mendapatkan data dari Mendagri bahwa serapan APBD Kota Balikpapan rendah.

“Hari ini, mereka melakukan monitoring sekaligus klarifikasi terhadap serapan APBD di daerah, karena instruksi presiden agar seluruh daerah segera melakukan kinerjanya, sehingga perputaran ekonomi terjadi,” ujarnya, Senin (5/12/2022).

Sesuai arahan, menurutnya, jangan ada dana yang mengendap di bank, sehingga dilakukan klarifikasi dan serapan fisik itu.

“Adapun kedatangan rombongan waktu itu saat melakukan input data di kemendagri masih rendah sehingga mereka datang ke sini. Namun, untuk saat ini sudah clear dan juga sudah kita sampaikan semua. Insya Allah sampaikan akhir tahun bisa mencapai 95 persen di fisik dan 90 persen untuk keuangan,” ucapnya.

Ditambahkannya, rombongan Setkab ini juga menampung usulan dari daerah, maka dengan adanya momen itu pihaknya menyampaikan usulan kebijakan dan regulasi yang terkait menghambat daerah, supaya dilakukan perbaikan untuk pelaporan.

Sementara itu, Asisten Deputi Bidang Perekonomian Makro, Perencanaan Pembangunan, dan Pengembangan Iklim Usaha Setkab, Roby Arya Brata mengatakan, dari peninjauan ini ditemukan jika penggunaan APBD pemkot Balikpapan cukup baik, sudah capai 83 persen.

“Jadi banyak faktor yang menyebabkan realisasi APBD di daerah terhambat, sehingga Pak Presiden minta agar setiap daerah mempercepat realisasi APBD nya karena ini untuk ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Adapun faktor yang menghambat di berbagai daerah kata Roby, diantaranya faktor di internal Pemda dan eksternal terutama faktor di pusat, misalnya juknis yang sering berubah dan terlambat ke daerah, soal proses administratif yang kadang OPD terlambat sehingga pengadaan barang dan jasa juga ikut terlambat.

“Dimana tahun ini ada perbaikan dibandingkan tahun lalu hampir seluruh indonesia ada peningkatan untuk realisasinya,” ucapnya.

Dia menyampaikan, regulasi yang menghambat harap ada perbaikan, dengan memberian kebebasan kepada daerah untuk melakukan inovasi yang tetap dalam koridor yang penting. (man)
Editor: Redaksi BusamID

Baca berita BusamID seputar Kaltim, Samarinda dan lainnya melalui Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *