Samarinda, Busam.ID – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda, Asli Nuryadin, menegaskan posisinya terkait insiden memilukan di lingkungan SD Samarinda Seberang, di mana seorang siswa mengalami patah tulang kaki.
Meskipun laporan menyebutkan aksi kekerasan yang brutal, Disdikbud berpegangan pada anggapan insiden itu bermula dari interaksi bermain antar anak, bukan kasus bullying yang direncanakan.
Asli Nuryadin, saat dikonfirmasi Jumat (28/11/2025) menjelaskan, anak-anak usia SD belum memahami konsep kekerasan terstruktur.
“Anak-anak kecil itu enggak mengerti yang segala bully-mumbully itu mereka enggak ngerti, dia bermain aja. Bermain, dalam bermain itu, biasalah mungkin kayak tendang-tendangan atau apa. Ini yang aku dapat laporan ya, lalu ditendanglah kaki si anak itu, terjadilah cacat atau patah itu,” jelas Asli Nuryadin.
Menurutnya, insiden tersebut merupakan kecelakaan tragis yang dipicu oleh interaksi fisik yang tidak terukur saat anak-anak bermain. Disdikbud memastikan kasus ini telah diselesaikan secara damai dan kekeluargaan berkat mediasi cepat yang dilakukan oleh pihak sekolah.
“Lalu, pihak sekolah menjembatani dengan pihak orang tua. Sudah disepakati orang tuanya pun, yang anak-anak yang melakukan itu, bersedia membantu,” ungkap Asli.
Kesepakatan ini berarti tidak ada tuntutan hukum lebih lanjut. Pihak keluarga pelaku bertanggung jawab atas biaya dan proses pemulihan korban. “Artinya tidak ada tuntutan segala macam, tapi paling tidak dari Disdik tetap mengimbau. Artinya sampai di situ, laporannya aku terima,” tambahnya.
Lebih lanjut, Asli Nuryadin menekankan pelajaran terpenting dari kasus ini adalah perlunya pengawasan ketat dari orang tua dan guru. “Supaya anak-anak bermain, kalau bisa diawasin, dia dijaga. Karena itu anak-anak kecil itu mungkin dia tidak tahu yang mana berbahaya, yang mana tidak,” tegasnya. (zul)
Editor: M Khaidir


