Samarinda, Busam.ID – Polemik penataan Pasar Pagi Samarinda berlanjut. Usai keluhan pedagang pemilik Surat Keterangan Tempat Usaha Berjualan (SKTUB) mencuat pekan lalu, kini giliran pedagang penyewa aktif yang menyuarakan tuntutan kepastian lapak menjelang Ramadan.
Dalam audiensi bersama Komisi II DPRD Kota Samarinda, Selasa (3/2/2026), pedagang penyewa meminta pemerintah kota turut mempertimbangkan keberadaan mereka yang selama ini aktif menghidupkan Pasar Pagi sebelum relokasi dilakukan.
Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, menegaskan persoalan Pasar Pagi tidak bisa dipandang hitam-putih antara pemilik SKTUB dan penyewa. Menurutnya, kedua kelompok sama-sama perlu dipertimbangkan secara adil dalam kebijakan penataan.
“Yang perlu dipastikan itu pedagang yang benar-benar aktif sebelum relokasi dan pemilik SKTUB yang sudah menunaikan hak serta kewajibannya. Dari situ baru bisa dicari titik temu,” ucapnya.
Iswandi menyebut DPRD akan mengawal proses penataan agar berjalan transparan dan tidak menimbulkan kecemburuan sosial antar pedagang. Ia juga mengingatkan agar narasi prioritas tidak memicu konflik terbuka. “Yang dicari solusi yang adil dan masuk akal,” tegasnya.
Dalam audiensi juga terungkap, keterbatasan jumlah kios masih menjadi persoalan utama. Kekurangan kios diperkirakan mencapai sekitar 280 unit, sehingga kebijakan yang diambil pemerintah proporsional tidak bisa dilakukan secara merata. “Karena kios terbatas, pendekatannya harus proporsional sesuai riwayat aktivitas berdagang,” jelasnya.
Perwakilan pedagang penyewa, Jumrani Aidil atau Aby, mengatakan pedagang hanya menginginkan kepastian agar tetap bisa berjualan, meski jumlah lapak nantinya berkurang. “Yang penting ada kepastian. Kami bingung karena tidak ada kabar yang valid. Padahal bulan puasa ini momen penting bagi pedagang,” katanya.
Selain itu, sebagian pedagang masih menanggung biaya sewa di lokasi relokasi Pasar Segiri Grosir setelah subsidi pemerintah berakhir Januari lalu, dengan nominal sewa bervariasi.
Berdasarkan pendataan pedagang, jumlah penyewa aktif di Pasar Segiri mencapai sekitar 179 orang, sementara total penyewa di seluruh lokasi relokasi diperkirakan sekitar 272 pedagang. “Kendala kami cuma satu, tidak punya SKTUB. Tapi kami pedagang aktif, nama kami ada, dan bisa diverifikasi di lapangan,” pungkasnya. (uca)
Editor: M Khaidir


