SAMARINDA, Busam.ID – Krisis kelistrikan yang melanda Kota Samarinda selama 4 bulan terakhir memicu gelombang protes. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Samarinda mendatangi Kantor PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Samarinda, Kamis (29/10/2026) sore.
Kedatangan mereka bertujuan mendesak transparansi terkait penyebab pasti pemadaman bergilir yang berlarut-larut, meminta komitmen penuntasan masalah, serta menuntut kompensasi riil bagi masyarakat terdampak.
Massa mahasiswa diterima langsung oleh jajaran manajemen PLN di halaman kantor. Dalam aksi tersebut, HMI menyoroti besarnya dampak kerugian sosio-ekonomi yang harus ditanggung warga Samarinda akibat pemadaman listrik yang dinilai tidak kunjung usai.
Kepala Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda (PTKP) HMI Cabang Samarinda, Muhammad Shefa, menegaskan, penjelasan berulang PLN melalui media sosial mengenai “gangguan pembangkit” tidak lagi cukup. Masyarakat membutuhkan kejelasan teknis serta solusi nyata di lapangan.
“Kami meminta transparansi penyebab gangguan pembangkit itu apa secara mendalam. Kedua, kami menuntut komitmen PLN UP3 untuk menghentikan pemadaman bergilir ini. Dan ketiga, harus ada kompensasi tegas kepada masyarakat yang dirugikan,” ujar Shefa.
Shefa membeberkan, dampak pemadaman selama 4 bulan terakhir sudah masuk ke tahap memprihatinkan mulai dar sektor usaha pelaku UMKM kuliner dan bahan mentah , fasilitas Publik dan Agama, sektor pendidikan kegiatan belajar-mengajar dan agenda kemahasiswaan terpaksa dibatalkan secara mendadak.
Atas dasar itu, HMI mendorong agar PLN segera memberikan ganti rugi atau kompensasi, terutama bagi pelanggan pascabayar yang tetap diwajibkan membayar tagihan secara penuh.
Menanggapi aksi massa tersebut, Manajer PLN UP3 Samarinda, Adrian Sitompul, menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada seluruh warga Samarinda. Ia mengonfirmasi bahwa defisit daya terjadi akibat kombinasi gangguan teknis dan pemeliharaan rutin pada empat sistem pembangkit utama penyokong kelistrikan daerah. :
“PLTGU Senipah, PLTU Indo Eka, PLTU Asam-Asam, dan PLTU Graha Power Kaltim (GPK),” ungkapnya.
Untuk mengatasi krisis pasokan ini, Adrian menjelaskan, PLN tengah menyiapkan skema penambahan kapasitas daya sebesar 278 Megawatt (MW) yang dibagi dalam dua fase.
Kendati demikian, Adrian secara jujur mengakui, proses pemulihan tidak bisa instan. Pemadaman bergilir diperkirakan masih berpotensi terjadi hingga beberapa pekan ke depan.
“Kami mohon maaf kepada masyarakat. Dengan kondisi saat ini dan keterbatasan pasokan, kemungkinan pemadaman dalam beberapa minggu ke depan masih akan terjadi. Namun, kami terus melakukan percepatan perbaikan dan koordinasi intensif,” ungkap Adrian.
Terkait tuntutan kompensasi, Adrian menyebut hal itu harus dievaluasi berdasarkan indikator Tingkat Mutu Pelayanan (TMP) dan regulasi yang berlaku di tingkat pusat. Pihaknya berjanji akan meneruskan aspirasi tersebut ke jajaran manajemen atas, meski belum dapat memastikan bentuk maupun tenggat waktu realisasinya.
Menjawab desakan mahasiswa akan keterbukaan data, PLN menyepakati untuk menggelar pertemuan lanjutan tertutup/audiensi resmi pada Selasa mendatang. Dalam pertemuan itu, PLN berjanji memaparkan data detail terkait kerusakan teknis pada masing-masing dari 4 pembangkit tersebut. (zul)
Editor: M Khaidir


