Pasar Pagi Landmark Samarinda Sejak Bahari

Busam ID
Foto Pasar Pagi Samarinda pada tahun 1990. Gambar ini diambil oleh Prof. Hilgard O'Reilly Sternberg dari University of California (sumber: merrick.library.miami.edu)

Samarinda, Busam.ID – Pasar Pagi Samarinda, satu di antara landmark bersejarah kota ini, yang keberadaannya masih eksis hingga zaman milenial saat ini.

Pasar Pagi merupakan landmark Samarinda sejak zaman bahari, yang perjalanannya mencerminkan dinamika pertumbuhan dan perubahan sosial-ekonomi.

Tulisan ini mengulik kisah dan perkembangan Pasar Pagi, dengan fokus pada informasi yang terdapat dalam dokumentasi tulisan sejarah yang disusun oleh Moh. Nur Ars, Yunus Rasyid, dan Hasyim Achmad, disunting oleh Mukhlis tahun 1986 lalu diterbitkan oleh Departemen Pendidikan & Kebudayaan pada 2010 secara digital.

Dalam dokumentasi sejarah tersebut, diuraikan bahwa pasar ini sudah berdiri sejak tahun 1960-an atau 1970-an dan menjelma sebagai saksi bisu perubahan dan evolusi dalam masyarakat.

Pasar ini mengalami transformasi signifikan dalam hal bangunan dan aktivitas ekonomi.

Awalnya, pada tahap awal pemekaran Kota Samarinda pada awal Pelita I, pembangunan kota secara berencana dimulai.

Prioritas utama adalah pembangunan prasarana perhubungan, khususnya jalan yang menghubungkan kota ini dengan pusat industri seperti Balikpapan dan Tenggarong.

Pada tahap ini, Pasar Pagi memiliki peran penting sebagai pusat kegiatan ekonomi.

Kemajuan pesat di bidang kehidupan ekonomi memberi dorongan bagi tersedianya fasilitas serta prasarana kegiatan ekonomi.

Pada saat Samarinda ditetapkan sebagai ibukota keresidenan, yaitu sekitar tahun 1946, pasar yang ada hanya satu yaitu ‘Pasar Pagi’.

Bangunan pasar ini awalnya terbuat dari kayu atau berupa bangsal beralaskan kayu/papan ulin yang disusun rata dengan tanah. Bangunannya dibuat bersekat-sekat atau berpetak-petak.

Di tempat ini dijual bermacam-macam sayur-sayuran, buah-buahan, beras dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Di bagian tepi Sungai Mahakam ada pula bangsal yang membujur sungai. Di tempat itu dijual berjenis-jenis ikan, pada umumnya ikan sungai. Pedagang yang berjualan ikan di pasar ini pun tidak banyak, hanya berkisar antara 15-20 orang.

Pada posisi tegak lurus pasar ikan, ada pula bangsal untuk berjualan daging sapi dan ayam yang masih hidup. Pedagang yang berjualan di los pasar ini hanya sekitar 10 orang.

Kemudian, pedagang bertambah seiring diselesaikannya Komplek Pertokoan Pinang Babaris pada tahun 1971, disusul dengan pembagunan Pasar Induk Segiri pada tahun 1978, sebagai pengganti pasar induk sebelumnya Pasar Pagi.

Pembangunan pasar induk ini disertai pula oleh pembangunan pasar-pasar inpres. Pada saat yang sama pula, berhasil diselesaikan sebuah bangunan monumental, yakni Balai Kota Samarinda yang masa itu menelan biaya sebesar Rp. 1.192.000.000,00.

Bangunan monumental lainnya yang juga telah diselesaikan ialah Mesjid Raya Samarinda, yang diresmikan pemakaiannya oleh Menteri Agama pada tanggal 2 Februari 1974.

Pusat-pusat kegiatan ekonomi kota, yang pada umumnya terdiri atas pasar, pertokoan dan pusat-pusat perbelanjaan, pelabuhan bongkar-muat barang, pergudangan, perbankan dan lain-lain merupakan barometer kemajuan perekonomian di tempat itu.

Secara periodesasi, diuraikan keadaan pusat-pusat kegiatan ekonomi itu dimulai tahun 1946 hingga 1979.

Dalam perkembangannya, Pasar Pagi perlahan menghadapi tantangan terkait infrastruktur yang sudah tidak memadai. Bangunan kayu dan bangsal beralaskan kayu menjadi wadah para pedagang berjualan. Namun seiring waktu, keadaan ini menjadi tidak layak lagi dari segi teknis sipil maupun tata kota.

Penting untuk dicatat bahwa pasar ini merupakan bagian integral dari pusat-pusat kegiatan ekonomi Kota Samarinda.

Pada tahun 1978, sebagai langkah dalam memenuhi tuntutan perkembangan ekonomi, pasar induk baru dinamai ‘Segiri’ dibangun sebagai pengganti Pasar Pagi yang lama.

Pemerintah juga membangun berbagai pasar inpres guna memenuhi kebutuhan masyarakat.

Pasar Segiri, yang mulai dibangun pada tahun 1970-an, berhasil menjadi sentra ekonomi yang berkembang pesat. Berada di lokasi yang strategis, Pasar Segiri terletak di tengah-tengah kota.

Di samping itu, Pasar Pagi dan Pasar Sungai Dama tetap berfungsi dan ramai, menunjukkan kontribusi yang signifikan bagi kehidupan ekonomi kota.

Kisah Pasar Pagi Samarinda mengilustrasikan sejarah yang berkesinambungan, dari masa lalu hingga kini.

Rekonstruksi yang akan direalisasi pada tahun 2024 oleh Pemerintah Kota Samarinda di bawah kepemimpinan Andi Harun adalah langkah maju untuk menjawab tuntutan zaman, sambil tetap menghormati jejak sejarah yang membentuk identitas kota ini.

Melalui perpaduan antara modernisasi dan warisan kultural, diharapkan Pasar Pagi akan terus menjadi pusat aktivitas ekonomi yang berdaya saing di tengah perubahan dinamis masyarakat dan perkembangan kota yang pesat. (Ryan)

Editor : A Risa

Baca berita BusamID seputar Kaltim, Samarinda dan lainnya melalui Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *