Kemarau Panjang, Warga Bayur di Samarinda Terpaksa Andalkan Air Irigasi MCK

Busam ID
Seorang warga kawasan Bayur, tengah mengambil air tampungan di saluran irigasi untuk kebutuhan MCK, Rabu (2/9/2026). Foto by Zulkarnain

Samarinda, Busam.ID – Kemarau panjang mulai dirasakan warga di kawasan Bayur, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara. Sejumlah warga bahkan terpaksa memanfaatkan air irigasi yang masih tertampung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Air tersebut digunakan untuk mandi, cuci dan kakus (MCK). Sementara untuk kebutuhan memasak dan minum, warga harus membeli air bersih karena kualitas air irigasi tersebut tidak layak dikonsumsi secara langsung.

Salah seorang warga Bayur, Sahrino, mengatakan sumur gali yang selama ini menjadi sumber air utama warga telah mengering hampir sebulan terakhir.

“Sumur gali sudah habis, hampir sebulanan. Jadi sekarang tinggal air ini saja. Kalau untuk minum, kami beli,” ujar Sahrino saat ditemui di kediamannya, Rabu (2/9/2026).

Menurutnya, penggunaan air bersih untuk seluruh kebutuhan rumah tangga cukup memberatkan. Harga air per tandon yang mencapai sekitar Rp120 ribu per galon membuat warga memilih memanfaatkan air irigasi untuk kebutuhan selain konsumsi.

“Kalau beli Rp120 ribu per tandon. Air ini masih bisa digunakan setelah diendapkan atau diobati. Jadi untuk mandi dan mencuci saja, tidak untuk diminum,” katanya.

Sahrino berharap pemerintah dapat memberikan solusi, terutama menyediakan tempat penampungan air bersih untuk membantu warga menghadapi kondisi kemarau.

Ia menyebut, persoalan kekurangan air bukan hanya dialami 1 atau 2 keluarga. Sejumlah warga di kawasan tersebut juga mengalami kondisi serupa dan harus mencari sumber air alternatif.

Ketua RT 38, Hadri, menjelaskan air yang dimanfaatkan warga merupakan air irigasi yang berasal dari kawasan perbukitan dan mengalir menuju permukiman.

Menurut Hadri, saat ini sekitar 10 hingga 15 kepala keluarga di kawasan sekitar RT 38 memanfaatkan saluran tersebut. Jika ditambah warga dari RT lain di sekitarnya, jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 20 keluarga.

“Air ini digunakan untuk menyiram tanaman, keperluan WC, mencuci dan mandi. Kalau untuk mandi, biasanya kami endapkan dulu 1 sampai 2 malam,” jelasnya.

Sedangkan untuk memasak dan minum, warga tetap menggunakan air bersih yang dibeli.
Hadri mengatakan sebagian warga masih memiliki sumur yang dapat digunakan, namun jumlahnya semakin terbatas. Kondisi tersebut membuat warga harus bergantian mencari sumber air dan membeli air bagi yang mampu.

“Ke depannya kami juga berupaya bekerja sama dengan Koramil untuk membuat penampungan air, sehingga ada sumber air bersih untuk warga,” ujarnya.

Warga berharap upaya tersebut dapat segera terealisasi, sehingga mereka tidak terus bergantung pada air irigasi setiap kali musim kemarau melanda. (zul)
Editor: M Khaidir

Baca berita BusamID seputar Kaltim, Samarinda dan lainnya melalui Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *