“BEKERJALAH dengan hati, bertindaklah dengan nurani, dan tetap rendah hati dalam setiap pencapaian.” Itulah prinsip hidup yang dipegang teguh oleh Bara Mantio Irshara, sosok jaksa intelijen yang kini menjabat sebagai Kepala Seksi Intelijen di Kejaksaan Negeri (Kejari) Samarinda.
Perjalanan panjang Bara di dunia hukum dimulai sejak 14 April 2005, sebagai staf tata usaha di Kejari Kabupaten Banjar (Martapura). Setahun kemudian, ia resmi diangkat sebagai PNS, dan tak lama berselang, mengikuti pendidikan jaksa di Pusdiklat Kejaksaan Agung RI. Kariernya sebagai jaksa dimulai pada September 2008, saat ditempatkan di Kejari Tapin.
Setelah hanya 6 bulan bertugas, ia dipindahkan ke Kejari Banjarmasin sebagai jaksa fungsional. Pada Januari 2010, ia mendapatkan promosi sebagai Kepala Sub Seksi Penyidikan. Langkah kariernya terus naik, hingga tahun 2014 ditugaskan sebagai anggota Satgas Khusus Tindak Pidana Korupsi di Kejati Kalimantan Selatan.
Sejak itu, Bara menjalani berbagai penugasan penting di sejumlah daerah, mulai dari Kalimantan, Sulawesi, hingga Sumatera. Tugas yang dilakoninya tidak hanya menyentuh sisi teknis penegakan hukum, tapi juga menyentuh masyarakat secara langsung.
Sebagai Kasi Intel Kejari Luwu Timur, Bara dikenal inovatif dan humanis. Ia menggagas Program Jaksa Garda Desa, membentuk Posko Jaga Desa, dan bahkan membangun Kampung Pangan Adhyaksa di 14 desa sebagai model kemandirian pangan. Atas dedikasi ini, ia menerima penghargaan dari Bupati Luwu Timur tahun 2022.
Kini di Kejari Samarinda, baru 7 bulan bertugas, ia telah mencatat prestasi strategis: menyelesaikan tunggakan pekerja proyek Teras Samarinda, menangkap buronan kasus korupsi Wendi, serta membekuk pelaku persetubuhan anak, Alexander Agustinus Rottie, yang buron selama 8 tahun.
Memikul tanggungjawab besar, diantaranya melakukan penyelidikan, pengamanan, dan penggalangan dalam penanganan perkara, serta memberi masukan strategis kepada pimpinan. Bagi Bara, intelijen adalah “mata dan telinga” institusi—peran yang tak bisa dijalankan tanpa integritas dan ketajaman analisis.
Tak hanya itu, ia juga aktif memberikan penerangan dan penyuluhan hukum kepada masyarakat, memperluas peran jaksa sebagai pelayan publik.
Filosofi hidup Bara sederhana tapi mendalam: bekerja dengan hati dan bertindak dengan nurani. Ia selalu menekankan pentingnya kejujuran, tanggung jawab, dan disiplin dalam setiap tugas. Bagi Bara, hukum bukan hanya soal pasal dan sanksi, tapi juga menyangkut empati dan keadilan sosial.
“Saya ingin Kejari Samarinda menjadi institusi yang profesional, dicintai masyarakat, dan selalu hadir dengan solusi—bukan hanya penindakan,” ungkapnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk aktif berpartisipasi dalam menciptakan sistem hukum yang transparan melalui informasi, kritik membangun, dan keikutsertaan dalam program penyuluhan hukum.
Sosok yang paling menginspirasi Bara adalah Jaksa Agung ST Burhanuddin—seorang pemimpin yang tegas namun humanis, visioner namun membumi. “Kepemimpinan beliau membentuk cara saya bekerja dan berpikir tentang masa depan kejaksaan,” kata Bara.
Untuk para calon jaksa muda, ia berpesan: “Bangun fondasi moral sejak dini. Jangan takut memulai dari bawah, dan jangan pernah berhenti belajar. Dunia hukum butuh insan-insan berani jujur dan jujur berani.”
Bara Mantio Irshara bukan sekadar penegak hukum. Ia adalah representasi dari jaksa masa depan—yang tidak hanya tangguh di lapangan, tapi juga peka terhadap dinamika sosial dan kemanusiaan. Di tangannya, peran intelijen kejaksaan bukan hanya menjadi alat deteksi dini, tetapi juga jembatan antara hukum dan keadilan yang beradab. (adit)
Editor: M Khaidir


