Samarinda, Busam.ID – Kasus penganiayaan yang dilakukan santri terhadap rekannya di salah satu pondok pesantren (Ponpes) di Samarinda beberapa waktu lalu memunculkan masalah baru.
Saat BusamID mengklarifikasi dengan pihak keluarga korban bernama Lina, yang merupakan tante korban mengaku kecewa pada pihak Ponpes lantaran tidak mengabari keluarganya pada saat korban dilarikan ke rumah sakit.
“Kami dikabari jam 21.00 Wita, anak tersebut dibawa ke bidan pukul 18.00 Wita. Jeda waktunya itu banyak kenapa kami tidak dikabari, seharusnya kami langsung dikabarin perihal anak kami dalam keadaan gawat darurat,” ungkap Lina sembari terisak sedih.
Menurut Lina saat dikabari oleh pihak Ponpes perihal korban yang tengah dilarikan ke rumah sakit, dirinya bersama orangtua korban berada di acara kawinan.
“Saat itu ibunya langsung dibilangi, ibu harus kuat, terakhir muntah dan dibawa ke rumah sakit namun anak tersebut sudah tidak tertolong,” jelasnya.
Saat ditanyakan kepada pihak Ponpes penyebab meninggalnya korban, pihak Ponpes tidak menjawab.
“Waktu ditanya kenapa sampai meninggal, ustadznya tidak menjawab dan hanya diam. Seandainya tahu anak tersebut disakiti kami tidak akan kuburkan pak, tidak sakit begini,” tutur Lina dengan mata sembab.
Sementara ayah korban, Guntur Mado juga menyesalkan setelah tiga hari korban meninggal baru diberitahukan perihal penyebab kematian korban oleh pihak Ponpes.

“Ipar saya kan datang jam 9 malam sedangkan jenazahnya dibawa ke sini jam 12 malam. Kenapa dalam tempo waktu 3 jam itu tidak diomongkan penyebab kematian anak kami. Besoknya datang lagi ustadznya melayat, tapi masih belum bercerita, inikan seperti ditutupi,” terang Mado.
Hari Senin (20/2/2023) Mado dipanggil kembali oleh pihak pesantren dan baru dijelaskan penyebab kematian anaknya.
“Saya dipanggil oleh ustadz penanggungjawab ponpes dan dijelaskan kalau anak saya meninggal usai dianiaya oleh pelaku,” ucapnya.
Tim BusamID kemudian mendatangi pihak Ponpes untuk mengklarifikasi kebenaran informasi tersebut. Namun saat BusamID bersama dua awak media menyambangi Ponpes tersebut ternyata sedang liburan selama seminggu lantaran usai dilakukan Wisuda pada Minggu (19/2/2023). Info ini berdasarkan keterangan penjaga pos di Ponpes tersebut.
Sementara itu, Wakapolresta Samarinda, AKBP Eko Budiarto mengatakan pihak Ponpes sangat kooperatif dalam kasus tersebut.
“Di saat penyidik maupun penyelidik itu mencoba untuk mencari informasi, pihak pondok sangat kooperatif. Buktinya pelaku langsung diserahkan ke Polsek Sungai Pinang,” terang Eko.
Terkait pendapat keluarga korban yang mengatakan sudah tiga hari baru diberitahukan penyebab kematian korban, Eko menegaskan pihak Ponpes belum mengetahui penyebabnya.
“Tidak ada jeda waktu, hanya saja ketidaktahuan dari pada pihak pondok juga, karena berdasarkan informasi awal dari pelaku kalau korban tersebut jatuh di wc dan bukan pemukulan,” tambahnya.
Kalau dikatakan pembiaran ataupun kesan menutup-nutupi, Wakapolresta Samarinda dengan tegas menampiknya. (zul)








