Samarinda, Busam.ID – Dari 800 ribu lebih jumlah penduduk Samarinda, tercatat 9.032 adalah warga miskin. Bukan warga miskin biasa, sekitar satu persen populasi penduduk daerah yang bahari bernama Sama Rendah ini, berada pada posisi miskin ekstrem.
Hal itu terungkap dari pertemuan hearing Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Samarinda bersama Dinas Sosial (Dinsos) Samarinda.
Fokus hearing tersebut menitikberatkan permasalahan angka kemiskinan di Kota Samarinda.
Anggota Komisi IV DPRD Samarinda Rusdi menjelaskan, angka kemiskinan yang terjadi salah satu faktornya karena lowongan pekerjaan yang tidak memadai, sehingga memicu bertambahnya jumlah pengangguran.

“Sejauh ini angka kemiskinan Kota Samarinda terus bertambah. Salah satu penyebabnya adalah lapangan pekerjaan yang tidak memadai. Data dipaparkan ada 9.032 warga miskin ekstrem itu, diukur dari jumlah pengeluaran mereka per bulannya sekitar Rp 300 ribuan. Ini berarti per hari Rp 10 ribu pengeluarannya. Kami menekankan harus verifikasi lagi data yang aktual di lapangan,” nilai Rusdi.
Jika data yang dipaparkan Dinsos benar adanya, maka pemerintah harus segera mencari solusi dari kondisi yang ada.
Sehingga dampak kemiskinan ekstrem tidak sampai terjadi. Dampak yang dimaksud ungkap Rusdi, seperti bertambahnya eskalasi kejahatan disebabkan faktor ekonomi, juga ekses kesehatan pada warga yang mengalami kesusahan ekonomi.
“Saya harap Dinsos dapat menyampaikan apa yang menjadi kendala di lapangan dan menggunakan data yang aktual. Situasi ini harus terus dipantau agar dapat dikendalikan angka kemiskinan kedepannya,” imbuhnya.

Kepala Dinsos Samarinda, Isfihani menjelaskan dari 44.524 warga kategori miskin di Samarinda, terdapat 9.032 warga yang menyandang status miskin ekstrem.
Jumlah itu dilihat dari pengeluaran rata-rata per bulan warga miskin ekstrem pada kisaran Rp 300 ribu atau Rp 10 ribu per harinya.
“Data yang kami peroleh diambil dari Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia (Menko-PMK). Dari 44 ribu warga miskin di Samarinda, total ada 9.032 warga yang miskin ekstrem. Kami harap data ini tidak benar, untuk itu kami akan lakukan kolaborasi data bersama Disdukcapil,” sebut Ishifani.
Ditambahkan, Dinsos segera melakukan verifikasi dan validasi data yang akurat di lapangan terkait jumlah riil warga yang masuk kategori miskin ekstrem.
“Kita sedang laksanakan, Insya Allah selesai tahun 2024,” tutupnya. **(RYAN)
Editor : Tim Redaksi Busam,ID












