Samarinda, Busam.ID – Puluhan warga di Jalan Mugirejo dan Jalan Lubuk Sawa dari RT 10, 13, 15, 16, 18 dan 19, menyegel alat berat milik perusahaan tambang batu bara PT EGI pada Jumat (12/5/2023) sore sekira pukul 16.00 Wita. Akibat penyegelan itu, praktis aktivitas tambang PT EGI mengalami stagnan.
Warga menyegel alat berat Dozer, Excavator dan Dump Truk menggunakan tali rafia dengan cara diikatkan pada alat berat tersebut.
Hal ini dilakukan lantaran tuntutan yang disampaikan oleh warga setempat tak kunjung dipenuhi oleh perusahaan yang bergerak di lokasi milik PT Limbuh itu.
Menurut seorang warga dari RT 19, Gunanto, sebelum aktivitas penambangan berjalan, pihak warga dan penambang sudah melakukan pertemuan untuk membahas dampak lingkungan yang timbul dari kegiatan tambang emas hitam ersebut.
“Dari awal sebelum dilakukan penambangan dan sudah dilakukan pertemuan beberapa kali mereka (perusahaan-red) berjanji untuk pembenahan lingkungan,” terang Gun sapaan akrabnya.

Sosialisasi pertama dilakukan di Kelurahan Mugirejo dan dari 6 RT sudah mengajukan bahwasanya sebelum hauling agar memperhatikan lebih dulu dampak lingkungannya.
“Pihak perusahaan sudah menyanggupi akan membuatkan folder sebagai antisipasi dampak lingkungan terutama banjir akibat pembukaan lahan,” terangnya.
Seiring berjalannya waktu, setelah 6 bulan beroperasi dan hauling batubara berjalan, pengerjaan folder tersebut tak kunjung direalisasikan. Sementara dampak banjir selalu dirasakan warga ketika musim hujan datang.
“Informasi yang kami dapat, mereka sudah hauling bahkan diperkirakan sudah mencapai 15.000 tonase,” tambahnya.
Gun mengaku sudah ada pengerjaan setling pond untuk folder, namun warga menilai setling pond itu belum memenuhi standar.
“Progresnya memang sudah berjalan hanya saja baru beberapa persen. Di RT 15 ada dibuatkan kolam penyaring namun ukurannya masih kecil dan air tidak melewati kolam tersebut malah langsung mengalir ke pemukiman warga,” terang Gun.
Selain itu juga sudah ada progres normalisasi parit di RT 15 yakni pengerukan parit sepanjang 400 meter.
“Sedangkan di RT 19 untuk repair jalan saja belum maksimal termasuk folder juga belum dilakukan. Yang menjadi keresahan warga adalah terjadinya pendangkalan paret dan anak sungai ,” imbuhnya.
Gunanto menyebut, dampak lingkungan terparah dirasakan warga adalah ketika terjadi banjir di kala siang hari dan cuaca cerah.
“Pernah waktu itu banjir di siang bolong, terik. Begitu kami telusuri ternyata danau dibuka dan airnya masuk perkampungan,” jelasnya.
Sementara perwakilan dari PT EGI, Yulianto saat mendatangi warga mengatakan pihaknya akan langsung merealisasikan rencana pembuatan folder.
“Besok mulai pagi akan langsung kami kerjakan ya terkait permintaan warga membangun folder tersebut juga saluran hilirnya,” terang Yulianto.
Ke depannya ungkap Yuli, PT EGI akan menjaga koordinasi dengan pihak-pihak terkait termasuk warga yang terdampak lingkungan, perihal penanganan banjir juga debu yang timbul dari aktivitas hauling. Sehingga aktivitas tambang batu bara yang dilakukan PT EGI dapat minim dampak. (Zul)
Editor : Risa Busam,ID








