Pemanfaatan Insinerator di Samarinda Masih Butuh Pembenahan Operasional

Busam ID
Salah satu titik pengoperasian insinerator di Samarinda. Foto by Uca/Busam.ID

Samarinda, Busam.ID – Pemanfaatan insinerator sebagai alternatif pengolahan sampah di Samarinda masih membutuhkan pembenahan, terutama pada kesiapan operasional, kualitas sampah yang masuk, hingga dukungan fasilitas bagi pekerja di lapangan.

Kondisi tersebut terlihat di salah satu titik, yakni insinerator di Jalan Wanyi, Kecamatan Samarinda Utara. Saat ini, fasilitas tersebut masih dalam masa uji coba dan pelatihan teknis bagi para petugas.

“Ini masih tahap training. Kami belajar dari awal, mulai dari proses pemilahan sampah kering hingga teknik memasukkannya ke dalam tungku pembakaran,” ungkap Kepala Tim Insinerator Jalan Wanyi, Utha, Rabu (15/4/2026).

Menurutnya, kendala utama di lapangan terkait kondisi sampah yang diangkut dari Tempat Penampungan Sementara (TPS) masih tercampur dan belum terpilah. Hal ini berdampak langsung pada efektivitas suhu mesin.

“Suhu pembakaran saat ini berada di kisaran 500 hingga 700 derajat Celsius. Suhu tersebut cukup untuk sampah kering, namun belum maksimal untuk menghancurkan sampah basah yang membutuhkan panas lebih tinggi,” tambahnya.

Selain masalah teknis sampah, aspek keselamatan kerja juga menjadi sorotan. Utha menyebut Alat Pelindung Diri (APD) bagi para petugas di lapangan belum tersedia secara merata. Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, memastikan, pemerintah tengah melakukan pengadaan fasilitas secara bertahap.

“Target kami di bulan Mei, seluruh petugas insinerator sudah dilengkapi APD lengkap, mulai dari seragam, sepatu, sarung tangan, masker respirator, hingga pelindung wajah dan helm. Saat ini masih proses penyesuaian ukuran bagi masing-masing petugas,” jelas Taufiq.

Lebih lanjut, Taufiq menjelaskan, DLH tengah merumuskan pola terbaik agar sampah yang masuk ke mesin sudah dalam kondisi terpilah.

“Kami ingin ke depan ada sistem pemilahan sejak awal di tingkat TPS. Jika sampah yang masuk ke mesin sudah terpisah antara basah dan kering, proses pembakaran akan jauh lebih cepat, efisien, dan kebersihan di lokasi tetap terjaga,” pungkasnya. (uca)
Editor: M Khaidir

Baca berita BusamID seputar Kaltim, Samarinda dan lainnya melalui Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *