Di balik ramainya kursi barbershop dan suara mesin cukur yang tak pernah berhenti, ada kisah perjuangan seorang perantau yang perlahan menemukan jalannya. Dialah Jamil, capster muda yang kini meniti karier di Samarinda setelah meninggalkan kampung halamannya di Tangerang.
Jamil lahir di Tangerang pada 4 September 1996. Pendidikan terakhirnya adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meski demikian, keterbatasan pendidikan formal tidak membuatnya berhenti belajar. Justru dari pengalaman hidup dan keberanian mencoba hal baru, ia menemukan passion di dunia barber.
Perjalanan Jamil menuju profesi capster tidak terjadi secara instan. Pada tahun 2018, ia memutuskan merantau ke Samarinda untuk mencari pekerjaan dan memperbaiki kondisi ekonomi. Seperti banyak perantau lainnya, langkah awalnya tidak langsung berada di posisi yang diimpikan.
Saat pertama tiba di Kota Tepian, Jamil bekerja sebagai kasir di sebuah barbershop. Dari balik meja kasir, ia setiap hari memperhatikan para capster bekerja, bagaimana mereka memegang gunting, mengoperasikan mesin cukur, hingga berinteraksi dengan pelanggan.
Rasa penasaran mulai tumbuh. Melihat aktivitas para capster yang terlihat menarik sekaligus menantang, Jamil mulai berpikir untuk mencoba. Keinginannya untuk belajar semakin kuat hingga akhirnya ia memberanikan diri meminta kesempatan untuk belajar mencukur rambut.
“Awalnya saya hanya kasir. Tapi lama-lama penasaran melihat capster kerja. Akhirnya saya berani mencoba belajar mencukur,” kenangnya.
Langkah tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. Jamil mulai belajar secara langsung dari para capster yang lebih berpengalaman. Ia tidak hanya belajar teknik dasar mencukur, tetapi juga memahami gaya rambut yang sedang tren dan cara memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan.
Keseriusannya menekuni profesi ini tidak berhenti di situ. Untuk meningkatkan kemampuan, Jamil juga mengikuti berbagai workshop barber yang diadakan oleh komunitas maupun pelaku industri barber. Dari kegiatan tersebut, ia memperoleh sertifikat sekaligus memperluas wawasan mengenai teknik potong rambut modern.
Selain itu, ia juga banyak bertemu dengan sesama barber dari berbagai daerah. Pertemuan tersebut memberinya kesempatan untuk saling bertukar pengalaman, belajar teknik baru, hingga membangun jaringan pertemanan di dunia barber.
Bagi Jamil, profesi capster bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga bentuk seni dan pelayanan. Setiap potongan rambut memiliki karakter dan membutuhkan ketelitian agar hasilnya memuaskan pelanggan.
“Dari workshop dan ketemu banyak barber lain, saya bisa menambah wawasan dan berbagi pengalaman,” ujarnya.
Di sela kesibukannya bekerja, Jamil juga memiliki hobi yang membantunya menjaga semangat dan kreativitas dalam bekerja. Baginya, terus belajar dan membuka diri terhadap pengalaman baru adalah kunci untuk berkembang.
Kini, setelah beberapa tahun menekuni profesi tersebut, Jamil semakin mantap menapaki karier sebagai capster di Samarinda. Dari seorang kasir yang hanya mengamati dari kejauhan, ia berhasil mengubah rasa penasaran menjadi keahlian yang memberinya penghidupan. (adit)
Editor: M Khaidir


