Datang ke Kampung Ketupat, Wisatawan Mancanegara Terpukau Jemuran di Atap Rumah Warga

Busam ID
Kampung Ketupat di Jalan Mangkupalas Samarinda Seberang. Ft. Zulkarnain

Samarinda, Busam.ID – Kampung Ketupat yang berdiri sejak 18 Januari 2018 lalu, ditetapkan sebagai salah satu destinasi wisata dii Jalan Mangkupalas Samarinda Seberang. Kampung yang dihuni pengrajin ketupat ini, menampilkan pemandangan unik yang berlangsung alamiah. Wisatawan mancanegara pun dibuat terpukau dengan tumpukan ketupat yang dijemur di atap rumah warga.

Untuk menuju lokasi tersebut dari jantung Kota Samarinda, dibutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dengan menggunakan sepeda motor. Akses ke Kampung Ketupat saat ini yang hanya bisa dilalui dengan sepeda motor, menjadi tantangan tersendiri bagi pengunjung yang hendak berwisata memandang jalinan daun nipah sebagai bungkus makanan itu.

Untuk menuju ke Kampung Ketupat, para pengunjung akan melintasi Kampung Tenun dan masjid tertua di Samarinda yakni Masjid Shiratal Mustaqiem yang dibangun sekitar tahun 1980-an. Dengan demikian, sekali jalan pengunjung yang datang bisa sekaligus mengunjungi tiga lokasi wisata di Samarinda Seberang itu.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Ketupat, Azis menjelaskan jumlah pengrajin anyaman ketupat di tahun 2023 ini mencapai 128 orang. Dalam sehari per pengrajin mampu membuat ketupat 300-500 biji per hari. Hasil kerajinan untuk kuliner itu dijual di sejumlah kabupaten dan kota di Kaltim. Pemesanan tak hanya datang dari Kaltim, sejumlah daerah di Kalsel, Kalteng dan Kalbar turut memesan hasil produksi para pengrajin Kampung Ketupat. Bahkan ada pengrajin yang mengirim pesanan sampai ke Surabaya.

“Ketupat yang sudah dibuat dijual di sejumlah kabupaten bahkan kota lain seperti Balikpapan, Bontang serta ke Berau dan Kalimantan Utara. Malah mereka juga menerima pesanan dari daerah lain seperti Kota Surabaya,” terang Azis Senin (20/3/2023).

Azis menyebut untuk penjualan dalam satu ikatan yang terdiri dari 100 ketupat kecil di jual dengan harga Rp 25 ribu dan 100 ketupat sedang seharga Rp 100 ribu.

Salah seorang pengrajin yang berusia cukup uzur bernama Hasanah mengatakan bahan baku dari ketupat tersebut berasal dari daun nipah yang berada di muara kembang.

“Daun nipahnya kita ambil tapi tidak merusak pohonnya supaya bisa tumbuh lagi daunnya di bagian pucuk,” ucap Hasanah.

Hasil dari ketupat tersebut, warga bisa membuat kuliner untuk dihidangkan seperti Soto Banjar, Ketupat Sayur dan Coto Makassar.

Ketua Himpunan Pemandu Wisata Indonesia Provinsi Kaltim, Awang Jumri mengatakan, dirinya pernah membawa pengunjung asal luar negari berkunjung ke Kampung Ketupat dimana pengunjung asing tersebut terpesona dengan ketupat yang dijemur di atas atap rumah.

“Mereka terpesona hingga pengambilan gambar berulang-ulang karena keunikan ketupat dijemur di atap rumah warga, yang merupakan salah satu proses pembuatan ketupat sebelum siap dijual atau diolah,” terang Azis.

Salah seorang pengunjung bernama Misya Revalia Wong mengatakan, saat berkunjung ke Kampung Ketupat dirinya bisa mengetahui cara pembuatan ketupat dan berharap Kampung Ketupat dapat lebih terkenal lagi.

“Awalnya sih agak sulit karena memang tidak pernah membuat, namun setelah diulang-ulang akhirnya bisa meskipun masih lambat,” terang Misya sapaan akrabnya.

Misya menyebut destinasi yang sangat bagus tidak didukung dengan akses ke lokasi karena hanya dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor.

“Ya sayang aja, tempat wisata dan kulinernya yang khas untuk menuju kesana hanya bisa dilalui dengan mengendarai sepeda motor dan tidak bisa dilalui dengan mobil,” tutup Misya.(zul)

Editor : Risa Busam.ID

Baca berita BusamID seputar Kaltim, Samarinda dan lainnya melalui Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *