Kukar, Busam.ID – Warga di Dusun Tani Jaya, RT 25, Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara (Kukar), di jalur poros Samarinda-Balikpapan kilometer (km) 28, terpaksa mengungsikan barang-barang berharga mereka setelah rumah yang mereka tinggali mengalami keretakan parah akibat pergeseran tanah.
Fenomena tersebut disebutkan, sebenarnya terjadi sejak Januari 2025 lalu, dan terus berlanjut tanpa ada penanganan. Kondisi terparah terjadi sejak, Rabu (23/4/2025) saat hujan lebat mengguyur kawasan tersebut.
Tak hanya rumah warga, sebuah masjid di wilayah tersebut juga mengalami kerusakan cukup parah. Runawati (37), salah seorang warga terdampak menuturkan, gejala retakan lanjutan mulai terlihat, Kamis (24/4/2025) malam, namun semakin parah, Jumat (25/4/2025) pagi.
“Di awal tahun belum parah, cuma ketika Jumat pagi ini baru bunyi-bunyi terus lihat dinding-dinding sudah retak dan renggang. Lantai sudah turun, bahkan badan rumah dengan dapur sudah terputus,” ungkap Runawati kepada Busam.ID.
Dia pun dan keluarganya telah mengungsi ke tenda di depan rumah karena kondisi rumahnya yang tidak lagi dirasa aman. Ia berharap pemerintah segera memberikan bantuan dan menangani dampak kerusakan tersebut.
Warga menduga, selain faktor pengeboran air yang dilakukan di sekitaran pemukiman warga, aktivitas tambang batu bara menjadi penyebab utama pergeseran tanah, mengingat lokasi permukiman yang dikelilingi area pertambangan dan adanya aktivitas hauling batu bara yang melintas di jalur poros tidak jauh dari lokasi pergerakan tanah.
Penjaga Masjid Hidayatullah, Amang (42), mengatakan kerusakan pada masjid mulai terasa parah saat salat Magrib berlangsung, ditandai dengan pecahnya keramik.
“Awalnya, sebelum puasa itu turun sekitar 10 cm. Sekarang sudah agak besar, sekitar 50 cm turunnya lantai masjid, kejadiannya Kamis malam saat salat Magrib berlangsung. Baru rakaat pertama, jamaah langsung kabur ketika pergerakan terjadi,” jelas Amang.
Selain lantai, dinding dan keramik masjid juga banyak yang pecah dan retak. Akibat kondisi itu, aktivitas ibadah di masjid terpaksa dipindahkan ke halaman depan demi keamanan jamaah.
Kepala Dusun Tani Jaya, Norhayati mengatakan, dampak dari pergerakan tanah tersebut, selain pemukiman, jalur poros sebelah kiri dari arah Samarinda menuju Balikpapan tidak bisa dilalui.
“Saat ini, arus lalu lintas di jalan poros dialihkan menjadi satu jalur,” terang Norhayati.
Berdasarkan data, terdapat 11 bangunan dan 1 masjid mengalami kerusakan, 6 bangunan diantaranya rusak berat, masjid juga mengalami kerusakan parah.
“Sebagian warga yang rumahnya mengalami rusak berat terpaksa mengungsi dan barang-barangnya sudah dipindahkan, yang lain masih tetap bertahan di rumahnya,” ungkapnya.
Pemerintah desa dikabarkan telah menyiapkan anggaran untuk mendatangkan alat, dan dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda juga guna mengkaji penyebab pasti dan langkah penanganan lebih lanjut. (zul)
Editor: M Khaidir


