Samarinda, Busam.ID –Nilai tukar dollar hari ini mencapai Rp 15.878,-, menciptakan kekhawatiran di kalangan pengusaha dan konsumen.
Kenaikan nilai tukar dollar terhadap rupiah ini diperkirakan akan berdampak pada harga sejumlah barang, terutama barang-barang impor.
Satu di antara komoditas yang mulai merasakan dampaknya adalah kedelai, yang diketahui sebagai bahan baku utama dalam pembuatan tempe dan tahu di Indonesia.
Berdasarkan laporan dari Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), harga kedelai di tingkat pengrajin telah mengalami kenaikan signifikan.
Ketua Umum Gakoptindo, Aip Syarifuddin mengungkapkan kekhawatirannya, bahwa kenaikan nilai tukar saat ini akan membuat harga kedelai semakin mahal. Dikatakan Aip Syarifuddin, pada bulan Juli lalu, harga kedelai masih sekitar Rp 10 ribu per kilogram di pengrajin. Namun, saat ini harga telah melonjak dan mendekati Rp 13 ribu per kilogram.
Menurut Aip Syarifuddin sebagaimana dilansir dari detik.com Jumat (20/10/23), keadaan ini mulai mengkhawatirkan jika nilai tukar rupiah mencapai Rp 16.000 per dollar, harga kedelai kembali akan mengalami kenaikan. Dampak langsung kenaikan harga kedelai akan berimbas pada kenaikan harga tahu tempe dan produk olahan kedelai lainnya. Pada akhirnya dampak kenaikan harga tahu tempe ini akan ikut dirasakan masyarakat dan menjadi pendukung terjadinya inflasi.
Di tengah kekhawatiran ini, Kepala Dinas Perdagangan Samarinda, Marnabas Patiroy, memberikan keterangan yang sedikit melegakan.
Ia menyatakan bahwa untuk saat ini, warga Samarinda tidak perlu khawatir mengenai harga tempe dan tahu.
“Harga keduanya masih terpantau aman. Harga tempe dan tahu di Pasar Segiri, setelah kita cek pada hari ini masih dalam kisaran normal, yaitu sekitar Rp 5 ribu,” ungkap Marnabas, Sabtu (21/10/23).
Meskipun demikian, Marnabas Patiroy akan terus memantau nilai kurs dollar sambil berkoordinasi dengan para pengrajin kedelai.
“Ya semoga nilai kurs dollar dapat segera kembali stabil untuk menjaga stabilitas harga kedelai dan produk olahannya di pasaran. Kita semua akan terus mengikuti perkembangan situasi ini dengan cermat,” tutupnya. (Ryan)
Editor : A Risa


