Kukar, Busam.ID – Kondisi pemukiman warga di sekitar kilometer (Km) 28 jalur poros Samarinda-Balikpapan, Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara (Kukar), semakin memprihatinkan. Hal itu akibat pergerakan tanah yang terus terjadi. Bangunan rumah mengalami kerusakan parah bahkan hancur, memaksa sebagian warga hidup dalam ketidakpastian dan merasa was-was.
Lawi, salah seorang pemilik rumah yang terdampak, mengungkapkan kekhawatirannya tersebut.
“Kita masih was-was. Sementara masih tinggal di sini soalnya kita mau ke mana lagi tidak punya tempat lagi untuk tinggal,” ujarnya, Jumat (16/5/2025).
Dikatakannya, hingga saat ini dirinya masih tinggal di depan rumahnya, dalam hal ini di sebuah tenda yang ia dirikan sendiri. Tenda tersebut ia gunakan sebagai tempat berlindung dari panas dan hujan serta kegiatan sehari-harinya.
“Masih kita tempati sampai sekarang masih bertahan soalnya mau ke mana lagi, barang-barang juga masih di sini,” jelasnya.
Lawi menuturkan, kerusakan rumahnya semakin parah dalam 3 hari terakhir, dengan pergerakan tanah yang terus terjadi hingga menyebabkan bangunan runtuh sebagian. “3 hari ini lah terjadi pergerakan dan turun terus, kemarin sore (Kamis) sudah runtuh seperti ini, sudah parah. Sampai saat ini pergerakan itu masih terdengar,” ungkapnya.
Curah hujan menjadi kekhawatiran utama warga, lanjutnya, karena diprediksi akan mempercepat pergerakan tanah.
“Yang dikhawatirkan saat ini curah hujan, kalau sudah hujan pasti bergerak. Kalau pemerintah memang ada menyiapkan tempat kita akan mengungsi. Soalnya kita masih bertahan di sini karena tidak punya tempat, keluarga juga tidak ada di sekitar sini,” harapnya.
Lawi berharap pemerintah dapat segera membantu menyelesaikan masalah tersebut. “Kami menduga-duga saja dari di atas itu kan ada danau, danau milik perusahaan. Kalau saat turun hujan airnya, kalau hujan turun kan airnya meluap pasti lari ke sini, ke bawah sini,” tuturnya.
Sementara Kepala Desa Batuah, Abdul Rasyid membenarkan kondisi memprihatinkan warganya. Ia menjelaskan, Bupati Kukar Edi Damansyah telah meninjau lokasi dan membuat video laporan untuk dikirimkan ke Kementerian terkait.
Rasyid menambahkan, BPJN juga sedang melakukan perbaikan ringan dan berencana membangun jalan alternatif sepanjang 170 meter. Anggaran untuk pengerjaan jalan alternatif ini dikabarkan telah turun. Perbaikan di kilometer 28 juga terus berjalan dengan alat-alat berat yang sudah disiagakan.
Terkait penyebab amblasnya, Abdul Rasyid menyampaikan hasil kajian Unmul yang mengindikasikan formasi tanah Kampung Baru yang belum stabil sebagai faktor utama, diperparah dengan tingginya intensitas hujan. Kajian lanjutan melalui pengeboran akan dilakukan untuk mengetahui kedalaman lapisan tanah dan menjadi dasar pengerjaan jalan.
“Kalau penjelasan mereka (Unmul) tidak ada sebab dari itu (aktivitas pertambangan) bahkan Unmul sudah mengecek disposal dan lain sebagainya,” ungkap Rasyid. (zul)
Editor: M Khaidir


