Samarinda, Busam.ID -Sebanyak 60 mahasiswa dari 7 tperguruan tinggi di Kota Samarinda mengikuti sosialisasi pengawasan partisipatif Pemilu (Pemilihan Umum) yang digelar Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Samarinda di Lounge Hotel Horison pada Rabu (31/5/23).
Dalam sambutannya, Kepala Bawaslu Kota Samarinda, Abdul Muin mengatakan terkait pentingnya kegiatan tersebut.
“Jadi, kegiatan ini sangat penting bagi teman-teman mahasiswa yang sekarang disebut kaum milenial, punya peran penting dalam proses Pemilu mendatang. Kami dari Bawaslu berharap Pemilu 2024 jadi Pemilu yang efisien dan demokratis. Tradisi politik uang atau kerap disebut money politik harus dipotong dan jadi tugas kita bersama,” ucap Abdul Muin.

Abdul menambahkan jika mahasiswa dalam peran social of controller harus memiliki keberanian dibanding masyarakat umum pada umumnya.
Mengingat Pemilu merupakan sarana demokratis bagi setiap warga negara, oleh karena itu ia menilai pentingnya pengawasan partisipatif dari seluruh mahasiswa.
“Mahasiswa bisa melaporkan jika ada pelanggaran Pemilu mendatang, bisa turut mengawal jalannya proses Pemilu, bisa memberi masukan untuk calon pemimpin yang akan terpilih nantinya hingga bisa memiliki andil dalam menentukan pemilihan dengan menggunakan hak suaranya,” jelas Abdul Muin.
Ia pun mengajak dan mengimbau seluruh perwakilan mahasiswa yang hadir untuk mengawal tahapan pemilu yang saat ini sedang berada di tahap verifikasi partai politik.
“Bulan Juni lalu tahapan Pemilu 2024 sudah mulai. Di bulan Februari 2024 akan dilaksanakan pencoblosan Legislatif dan Pilpres. Sementara Pemilihan Bupati atau Kepala Daerah pada November 2024,” tambah Abdul.
Selain itu, seorang narasumber dalam kegiatan tersebut, Dr. A. Muadzin juga mengatakan hal yang sama yaitu pentingnya peran mahasiswa untuk turut mengawasi proses Pemilu mengingat keterbatasan jumlah pengawas.
“Kalau kita tidak mengawasi, Pemilu akan berjalan tidak baik. Ada pelanggaran Pemilu seperti money politik, black campaign dan bahkan isu hoaks. Semua itu perlu kita awasi bersama,” ucap Muadzin.
Muadzin berpesan pada akhirnya pengawasan yang dilakukan mahasiswa nantinya akan menentukan keberlangsungan penyelenggaraan Pemilu.
“Kalau Pemilunya baik, hasilnya baik. Sebagai mahasiswa yang masuk kategori milenial, mari gunakan keaktifan teman-teman di media sosial untuk bisa turut mengedukasi kepada masyarakat umum agar tidak golput,” ujarnya.
“Semakin banyak masyarakat yang datang ke TPS saat Pemilu nanti, khususnya demokrasi Pemilu pada 2024 nanti, maka akan semakin tinggi tingkat kesuksesan kita,” tambah Muadzin.
Muadzin pun turut bertanya kepada mahasiswa bagaimana jika para mahasiswa menerima praktek money politik.
Seorang dari mahasiswa, Bobby yang berasal dari Untag menjawab pertanyaan tersebut.
“Realitis saja, saya terima, tapi saya tidak akan mencoblos orang tersebut. Menurutnya, calon politikus yang sudah menggunakan uang untuk meraih suara, maka akan menggunakan segala cara untuk mengembalikan uang yang telah dikeluarkan tersebut saat sudah terpilih nantinya,” jawab Bobby.
Diketahui, 7 Universitas yang mengirimkan perwakilannya dalam kegiatan sosialisasi tersebut yakni Universitas Mulawarman, Universitas Widya Gama Mahakam, Universitas 17 Agustus 1945, Universitas Muhammadiyah Kaltim, Universitas Islam Negeri Aji Muhammad Idris, IKIP PGRI Kaltim dan SI-PIN. (RYAN)
Editor : A Risa








