Balikpapan, Busam.ID — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Balikpapan belum menerapkan pembelajaran secara daring di sekolah meski kondisi udara di sejumlah wilayah mulai berkabut dan berasap.
Kepala Disdikbud Kota Balikpapan Irfan Taufik mengatakan, keputusan menerapkan pembelajaran daring masih menunggu hasil pemantauan kualitas udara dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan.
Berdasarkan hasil rapat terakhir, kondisi kualitas udara di Balikpapan masih berada dalam kategori sedang. Dengan kondisi tersebut, belum ada kebijakan untuk mengubah kegiatan belajar mengajar dari tatap muka menjadi pembelajaran daring.
“Kalau memang area-area yang sudah sangat berkabut, berasap, tapi sampai hari ini kita masih menunggu hasil kondisi udara kita dari DLH. Rapat kemarin terakhir masih dalam keadaan kategori yang sedang,” kata Irfan, Jumat (17/9/2026).
Meski belum menerapkan sekolah daring, Disdikbud telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Sekolah diminta mengurangi kegiatan di luar ruangan serta tidak melakukan pembakaran sampah maupun puing-puing ketika membersihkan lingkungan sekolah.
“Di kami juga hanya buat edaran pertama, jangan melakukan pembersihan sekolah-sekolah itu dengan cara membakar puing-puing atau membakar sampah,” ujarnya.
Selain itu, penggunaan masker dapat diterapkan apabila kondisi udara di lingkungan sekolah semakin memburuk. Namun, penerapannya akan disesuaikan dengan kondisi kualitas udara dan hasil pemantauan di lapangan.
“Kalau seolah mewajibkan misalnya atau meminta kemudiannya untuk memakai masker, itu tidak ada masalah,” katanya.
Sementara itu, untuk kegiatan olahraga di luar ruangan, Disdikbud belum menetapkan pembatasan khusus. Sekolah dapat menyesuaikan pelaksanaan kegiatan dengan kondisi lingkungan masing-masing.
“Kalau kegiatan olahraga di luar itu, selama masih belum terlalu, ini kan nggak ada, masih kita batasi, belum ada pembatasan. Ya itu inisiatif sekolah kita untuk menjaga anak-anak,” jelasnya.
Irfan menegaskan, pembelajaran daring baru akan dipertimbangkan apabila kondisi kualitas udara menunjukkan tingkat yang memerlukan perubahan pola pembelajaran.
“Kalau pada tataran misalnya sekolah daring dan sebagainya, kita menunggu hasil keputusan secara bersama-sama, apakah kondisi udara kita sudah sampai ke arah sana,” pungkasnya.
(Muhammad M)
Editor: M Khaidir


