Samarinda, Busam.ID – Kasus Tuberkulosis (TBC) di Samarinda masih banyak ditemukan dalam kondisi terlambat ditangani, karena gejala awal kerap dianggap sebagai batuk biasa oleh masyarakat, sehingga potensi penularan di lingkungan sekitar menjadi lebih tinggi.
Dokter spesialis paru, dr Yanti Evi Arlini Gultom, mengatakan sebagian pasien datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisi sudah cukup berat, padahal gejala awal seharusnya bisa dikenali sejak dini.
“Banyak pasien datang dalam kondisi sudah cukup berat karena menganggap batuk biasa, padahal itu bisa jadi gejala awal TBC,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Kasus TBC di Samarinda tercatat mencapai sekitar 4.000 kasus sepanjang 2025. Oleh sebab itu, Yanti mengingatkan masyarakat agar waspada jika mengalami batuk berkepanjangan lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, sesak napas, batuk berdarah, maupun napas berbunyi.
“Tidak harus semua gejala muncul, cukup satu saja sudah menjadi alasan untuk segera memeriksakan diri ke puskesmas,” katanya.
Menurutnya, keterlambatan penanganan tidak hanya memperburuk kondisi pasien, tetapi juga meningkatkan risiko penularan, terutama di lingkungan keluarga dan tempat kerja.
Deteksi dini dinilai menjadi kunci untuk memutus rantai penyebaran karena pasien yang terdiagnosis lebih awal dapat segera menjalani pengobatan.
Selain itu, ia menyoroti keterkaitan TBC dengan HIV yang dapat memperparah kondisi pasien. Individu dengan HIV memiliki risiko lebih tinggi terkena TBC akibat sistem kekebalan tubuh yang menurun.
“Pasien dengan HIV harus lebih waspada karena sistem imunnya menurun, sehingga TBC lebih mudah menyerang,” pungkasnya. (uca)
Editor: M Khaidir


