Samarinda, Busam.ID – Langkah inovatif Pemerintah Kota Samarinda dalam meluncurkan program Badan Usaha Milik Rukun Tetangga (BUM-RT) mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat lokal.
Pasalnya, perputaran ekonomi dari budidaya lele tersebut menyentuh angka hingga Rp 50 juta per bulan.
Nominal yang lumayan ini membuat semangat para pelaku ekonominya, sehingga kehadiran BUM-RT dirasakan sebagai angin segar bagi kumpulan warga RT 03 Gunung Lingai Sungai Pinang yang sehari-hari bejibaku dalam ternak dan budidaya lele.
Salah seorang sosok kunci dalam pelaksanaan program ini adalah Kisyanto, Ketua RT 03 Gunung Lingai Sungai Pinang.
Kisyanto merupakan pengayom, penasihat dan pengarah bagi para pelaku usaha di wilayahnya.
Dalam wawancara bersama Busam.ID, Kisyanto menjelaskan alasan fokusnya pada budidaya ikan lele.
Menurut Kisyanto, ikan lele menjadi pilihan yang tepat karena memiliki potensi untuk memberikan keuntungan dengan cepat.
“Kami ingin memanfaatkan peluang ini secara maksimal untuk meningkatkan perekonomian warga di wilayah kami,” ujar Kisyanto.
Ia juga berencana untuk mengembangkan varian bisnis dengan menghasilkan ikan lele asap dalam waktu dekat.
Dengan adanya program BUM-RT, perputaran ekonomi dari budidaya ikan lele di RT 03 meningkat signifikan.
Kisyanto menjelaskan, bahwa sebagian dari pendapatan usaha ternak dan budidaya lele, yang setiap bulannya mencapai sekitar Rp 50 juta, disimpan sebagai tabungan.
Dana simpanan ini nantinya akan digunakan untuk pengembangan bisnis dan juga sebagai modal guna dipinjamkan kepada pelaku usaha lain di wilayahnya tanpa bunga.
Kisyanto merasa sangat positif terhadap dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Samarinda dalam bentuk peluncuran BUM-RT.
Menurut pria yang akrab dipanggil Pak Kis ini, peluncuran BUM-RT memberikan dorongan kuat bagi pihaknya lebih mengembangkan usaha budidaya ikan lele yang telah dijalankan selama ini.
“Dari awalnya hanya melibatkan 10 pelaku usaha pada tahun 2019, hingga saat ini jumlah peternak telah berkembang pesat menjadi 200 orang yang bersama-sama bergerak untuk mengembangkan usaha budidaya ikan lele,” jelas Kisyanto.
Berbicara mengenai lahan yang digunakan, Kisyanto menjelaskan bahwa saat ini usaha budidaya ikan lele yang dijalankan pihaknya berdiri di atas lahan seluas 20×19 meter dengan 5 petak lahan.
“Lokasi ternak lele tersebut, awalnya adalah lahan tidur yang diberikan warga setempat tanpa biaya sewa,” paparnya.
Kisyanto dengan tekad dan semangatnya membuktikan bahwa inisiatif lokal yang berfokus pada potensi ekonomi setempat, dapat menghasilkan manfaat yang signifikan.
Dukungan dari pemerintah dan kerjasama antara masyarakat telah mengubah pandangan ekonomi di RT 03 Kelurahan Gunung Lingai, yang bisa menjadi contoh inspiratif bagi daerah lain di Indonesia. (Ryan)
Editor : A Risa












