Samarinda, Busam.ID – Kualitas udara di Kota Samarinda kembali menjadi perhatian. Data IQAir pada Rabu (16/9/2026) pukul 15.00 Wita mencatat indeks kualitas udara atau AQI berada di angka 108, dengan polutan utama PM2.5.
Kondisi tersebut masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Anak-anak, lansia, serta warga yang sensitif terhadap polusi udara diminta mengurangi paparan udara luar, terlebih saat kondisi udara memburuk.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, mengimbau masyarakat meningkatkan perlindungan diri ketika harus beraktivitas di luar ruangan. “Paparan polusi udara dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari iritasi tenggorokan dan batuk hingga sesak napas,” terang Suwarso.
Warga yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi tinggi, seperti N95 atau KF94, serta memastikan masker terpasang rapat.
“Pintu dan jendela rumah sebaiknya ditutup ketika kualitas udara di luar memburuk untuk mengurangi masuknya udara tercemar ke dalam ruangan. Penggunaan air purifier dengan filter HEPA juga dapat menjadi pilihan tambahan untuk membantu menjaga kualitas udara di dalam rumah,” paparnya.
Suwarso juga meminta masyarakat membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan dan terus memantau perkembangan kualitas udara.
Kondisi udara Samarinda ini terjadi di tengah kemarau serta munculnya sejumlah titik kebakaran lahan di Samarinda dan wilayah sekitarnya.
Sementara berdasarkan penjelasan BMKG, kondisi atmosfer saat ini turut memengaruhi pergerakan dan penyebaran asap. Asap dapat tertahan di atmosfer ketika kondisi udara relatif stabil, sehingga konsentrasinya lebih lama berada di suatu wilayah.
Arah angin juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Informasi cuaca menunjukkan pergerakan angin mengarah ke wilayah Samarinda, termasuk kawasan sekitar Bandara APT Pranoto.
“Kondisi tersebut bukan berarti asap secara khusus “dikirim” ke Samarinda, melainkan mengikuti pola pergerakan angin dan kondisi atmosfer yang sedang terjadi,” urainya.
Masyarakat pun diminta tidak hanya mengandalkan kondisi visual. Udara yang terlihat relatif normal belum tentu bebas dari partikel halus seperti PM2.5.
Warga yang mengalami batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas, atau keluhan pernapasan yang semakin berat diminta segera mengurangi paparan dan mencari pertolongan medis.
Di tengah ancaman kebakaran lahan dan kondisi kemarau, kewaspadaan masyarakat menjadi penting untuk mengantisipasi memburuknya kualitas udara dalam beberapa waktu ke depan. (zul)
Editor: M Khaidir


