Pedagang Pasar Pagi: Kami Dukung Revitalisasi, Tapi Jangan Direlokasi Terpencar

BusamID
Adi (baju putih), salah satu pedagang Pasar Pagi. Ft by Ryan/Busam.ID

Samarinda, Busam.ID – Proyek revitalisasi Pasar Pagi yang direncanakan dimulai awal 2024, mendapat dukungan sebagian besar pedagang.

Hanya saja, pedagang berharap jika tempat relokasi tidak terpencar sebagaimana rencana Pemkot akhir-akhir ini.

Para pedagang Pasar Pagi menginginkan relokasi hanya menggeser tempat berjualan mereka, tidak jauh dari lokasi awal yang hendak dibangun dengan desain baru.

Demikian pemahaman relokasi di benak mereka, sebagaimana sosialisasi awal melalui pemberitaan media beberapa waktu lalu. Pada awalnya, terkait revitalisasi Pasar Pagi ini, pihak Pemkot mengatakan untuk relokasi sementara para pedagang dicarikan lokasi tak jauh dari Pasar Pagi.

Sehingga proses revitalisasi tidak sampai berdampak serius terhadap mata pencaharian pedagang.

Mengingat pedagang sudah memiliki pelanggan yang biasanya warga sekitar lokasi pasar.

Respon ini disampaikan saat tim Busam.ID melakukan pengambilan konten video di Pasar Pagi pada Sabtu (9/9/23), di tengah suasana ramai pasar yang selalu dikunjungi oleh warga sekitar.

Adi, salah seorang pedagang veteran yang telah berjualan di Pasar Pagi selama hampir 30 tahun, mengklarifikasi beberapa mis informasi yang muncul di beberapa media.

Ia menyatakan bahwa pedagang tidak menolak revitalisasi, namun mereka ingin dilibatkan secara langsung oleh pihak pemerintah, terutama dalam hal relokasi.

“Jadi, kami menekankan bahwa saya dan juga rekan-rekan pedagang menolak jika relokasi dilakukan di beberapa tempat terpisah. Kami berharap relokasi yang dilakukan dapat menampung 2800 pedagang yang ada di Pasar Pagi ini. Jika terjadi pemisahan, pasar yang menjadi tujuan relokasi pemerintah tidak memadai,” ucapnya.

Ia juga telah mendengar bahwa pihak pemerintah sedang berusaha mencari lokasi ideal, yaitu di eks Bandara Temindung.

“Saya tentunya menyambut baik upaya ini, namun pemerintah menyampaikan bahwa hal tersebut masih dalam tahap pengupayaan karena area tersebut berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur,” jelasnya.

Aswin, seorang pedagang yang sudah berjualan pakaian selama 17 tahun di pasar tersebut, juga menyatakan bahwa tidak ada penolakan terhadap rencana revitalisasi.

“Namun, kami menekankan perlunya diskusi mendalam dengan kami semua para pedagang untuk mengatasi potensi masalah yang mungkin muncul di masa depan,” paparnya.

Sutarni, yang telah berjualan nasi pecel di dalam Pasar Pagi selama 37 tahun, juga mengkonfirmasi hal yang sama.

“Saya sebagai rakyat kecil, hanya dapat mengikuti perkembangan ini, asalkan kebijakan tersebut tidak merugikan saya secara berlebihan,” ucapnya

Sementara itu, Kepala UPTD Pasar Pagi, Abdul Asis, mengakui bahwa pihaknya bersama Pemerintah Kota Samarinda sedang melakukan persiapan yang matang dalam proyek revitalisasi yang melibatkan 2.800 pedagang.

“Ke depannya, pihak Pemerintah Kota akan melakukan sosialisasi lebih lanjut terkait proyek ini untuk mencapai pemahaman bersama dengan para pedagang,” jelas Abdul.

Semangat kolaborasi antara pihak pemerintah dan pedagang Pasar Pagi Samarinda menjadi kunci kesuksesan dalam menjalankan proyek revitalisasi ini.

Diharapkan bahwa melalui dialog yang terbuka dan kerjasama yang baik, proyek ini dapat berjalan dengan lancar dan menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat. (Ryan)

Editor : A Risa

Baca berita BusamID seputar Kaltim, Samarinda dan lainnya melalui Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *