BusamID – Penyaluran beasiswa Program Indonesia PIntar (PIP) yang dikawal anggota DPR RI Dapil Kaltim Hetifah Sjaifudian, ternyata sedikit menyisakan rasa mengganjal pada hati dan pikir sejumlah insan dunia pendidikan. Banyak yang berbahagia mendapat bantuan beasiswa itu, namun ada beberapa yang merasa penyaluran biaya untuk mensuport pendidikan anak bangsa itu, dirasa kurang adil.
Minggu (06/03/22), Hetifah menjumpai konstituennya di Sepaku. Bertempat di SMP Muhammadiyah Sepaku, salah seorang penanya menyoal tentang mekanisme penyaluran beasiswa yang dikawal Hetifah.
“Saya bingung Bunda..kalau anak guru saja dapat kenapa anak yang kurang mampu bisa lepas dari penyaluran beasiswa. Apa tidak sebaiknya distribusi dilakukan oleh pihak sekolah langsung, sehingga bisa lebih tepat sasaran. Jadi sekolah dikasi jatah berapa gitu yang harus segera didistribusikan,” ungkap Sugeng Subandi, salah seorang kepala sekolah di Sepaku.
Sugeng mengaku merasa heran dengan model penyaluran beasiswa yang dikawal Hetifah. Sebab dilakukan terhadap individu siswa langsung tanpa pelibatan pihak sekolah secara kelembagaan. Alhasil keadaan itu cenderung menjadi bumerang karena tumpang tindih dengan beasiswa yang dikucurkan dari Pemda lokal.
Apalagi imbuh Sugeng, pencairan beasiswa PIP yang dikawal Hetifah tidaklah mudah karena pihak siswa harus berurusan langsung ke bank. Menurut pria berbadan subur itu, jika penyaluran beasiswa dilakukan melalui sekolah secara kelembagaan, monitoring dan pengurusan pencairan di bank bisa diback up oleh pihak sekolah.
Menanggapi keluhan mengenai penyaluran beasiswa itu, Hetifah menegaskan jika saat ini anak ASN juga berhak mendapatkan beasiswa PIP. Persoalan pencairan dan keluhan lain menurut Hetifah akan dijadikan evaluasi pihaknya mendatang.

JIka Sugeng mengeluhkan tentang jalur penyaluran beasiswa, maka banyak insan pendidik yang merasakan hadirnya beasiswa PIP kawalan Wakil Ketua Komisi X DPR RI ini sangat membantu mereka. Sebut saja Sulastri. Menurut Kepsek SDN 022 Sepaku ini, bantuan beasiswa PIP yang dikawal Hetifah membantu banyak anak didiknya.
“Syukur kami ada bantuan beasiswa PIP dari Bunda Hetifah ini. Anak-anak didik saya banyak yang ceria. Mungkin sedikit repot mengurusnya di bank, tapi asal sabar semua teratasi. Yang kesulitan mungkin karena jarang berurusan dengan bank ya,” ungkap Sulastri yang turut tampil sebagai penanggap dalam pertemuan Jumpa Hetifah di Sepaku itu.
Dalam kesempatan tersebut, Sulastri lantas sekaligus berkeluh kesan tentang kondisi sekolahnya. Menurut Sulastri, sekolahnya diplot sebagai Sekolah Penggerak, namun kondisi fisiknya belum layak disebut sebagai Sekolah Penggerak. Namun Sulastri mengaku bersyukur, satu bantuan berupa Toilet Sehat di lembaga pendidikan yang dipimpinnya, sangat dirasakan manfaatnya oleh semua warga sekolah.
“Bunda, sekolah saya digelari sebagai Sekolah Penggerak, tapi fasilitasnya menurut saya belum bisa dikategorikan demikian. Seperti ketiadaan pagar sekolah, juga beberapa fasilitas penunjang lainnya,” ungkap Sulastri yang berharap Hetifah bisa mengawal bantuan infrastruktur lain untuk sekolahnya.
Senada dengan Sulastri, Kamsuri Kepsek SDN 01 PPU juga mengakui jika kucuran beasiswa yang dikawal Hetifah sangat membantu anak-anak didik di lingkungan sekolahnya. Namun dalam bantuan sekolah, Kamsuri mengeluhkan berbeda dari Sulastri. Kamsuri lebih menekankan pada sisi manajerial sekolah yang kesulitan menggaji guru honor.
“Untuk beasiswa Bunda, kami berterimakasih sekali. Banyak anak didik kami terbantu karenanya. Cuma kalau boleh Bunda, jumlahnya ditambah. Karena ada sebagian anak didik yang menurut kami kurang mampu, terlewatkan dari beasiswa PIP yang dikawal Bunda ini,” ungkap Kamsuri kemudian mengimbuh, kesulitan sekolahnya dalam menggaji guru honor sehingga meminta bantuan solusi pada anggota DPR RI tiga periode itu.
Tanggapan lain disampaikan Zubaidah yang terus sumringah selama kegiatan Jumpa Hetifah itu. Ternyata ketika maju sebagai penanggap, Zubaidah mengungkapkan kebahagiaanya lantaran suport dari Hetifah yang membantu taman pendidikan anak usia dini yang dikelolanya hingga memiliki alat peraga edukatif (APE).
“Saya tuh bingung Bunda, koq PAUD saya Mutiara Bunda satu-satunya yang mendapat dukungan APE pada awalnya. Padahal ada yang lebih senior. Teman-teman guru dari PAUD lain juga bingung. Jadi saya komunikasikan pada tim Bunda Hetifah di sini (Sepaku-red), alhamdulillah 6 PAUD lainnya menyusul mendapat bantuan yang sama,” tutur Zubaidah.
Bantuan yang dikawal Hetifah yang dijuluki Bunda Pendidikan di Kaltim ini, ternyata banyak dirasakan sekolah-sekolah yang ada di Sepaku. Contoh saja seperti bantuan Toilet Sehat, juga bantuan mebelair dan peralatan sekolah pada beberapa lembaga pendidikan yang tersebar di PPU. Hadirnya Hetifah langsung menemui mereka, dijadikan kesempatan untuk menyampaikan keluhan terkait keadaan sekolahnya, dari masalah infrastruktur sampai masalah manajamen sekolah seperti gaji guru honor.
Menanggapi semua aspirasi yang disampaikan langsung padanya, salah seorang Waketum DPP Partai Golkar ini mengatakan agar insan pendidikan yang mengusulkan bantuan, untuk membuat pengajuan dalam bentuk proposal lengkap dengan detil persyaratan. Sebab tekan Hetifah, saat ini proses kerja di semua lini bersifat semi robotic di mana banyak menggunakan jasa komputer yang menilai saklek persyaratan diajukan.
“Jangan sampai hanya kurang satu persyaratan yang sebenarnya tidak urgent, karena penilaian semi robotic saat ini jadi, aspirasi jadi gugur. Seperti pernah proses Pusat Keunggulan yang diajukan salah satu SMK di Balikpapan, gagal hanya karena tidak menyertakan map dari lokasinya sekolahnya,” tandas Hetifah.
Namun ibu empat orang putri ini menegaskan, jika pengajuan masih akan diseleksi mengingat plot dana yang juga terbatas setiap tahunnya.
“Jadi kami dulukan kebutuhan yang benar-benar prioritas,” ungkap Hetifah.
Sebagai informasi, penyaluran beasiswa PIP di Kaltim tahun 2021, yang dikawal Hetifah Sjaifudian mencapai 74.360 orang, terdiri berbagai jenjang sekolah baik SD, SLTP dan SLTA. Dari jumlah 74.360 beasiswa itu, dirincikan sebagai berikut. Kabupaten Berau menerima beasiswa sebanyak 6.275 orang, Kabupaten Kutai Barat menerima beasiswa sebanyak 3.061 orang, Kabupaten Kutai Kertanegara didistribusikan 10.373 beasiswa, Kabupaten Kutai Timur 350 beasiswa, Kabupaten Mahakam Ulu 675 beasiswa, Kabupaten Paser 12.398 beasiswa, Kabupaten Penajam Paser Utara 7.971 orang, Kota Balikpapan 13.320 orang, Kota Bontang 2.291 orang dan Kota Samarinda 17.646 beasiswa. (an)








