Pingsan Saat Tes, Pemuda Penjaja Pentol Keliling Lolos Tes Bintara Polri

BusamID
Sanju saat menyiapkan pentol goreng tepung di tempat tetangga untuk dijual di Pasar Malam Senin (24/7/2023). Ft. Zulkarnain

Samarinda, Busam.ID – Perjuangan pemuda yang sehari-hari membantu usaha tetangga berjualan pentolan di Pasar Malam Keliling, patut diacungi jempol.

Yogi Sanju Ibrahim, pemuda kelahiran Blitar 20 Mei 2003 ini, akhirnya lolos menjadi satu dari 124 orang calon Bintara Polri dari Kota Samarinda, setelah melalui jalan sulit dan dua kali gagal tes TNI.

Pemuda yatim piatu yang mendaftar tes Bintara Polri dengan modal apa adanya, selama ini hidup disuport kakaknya karena kedua orangtua mereka sudah berpulang.

Sanju (sapaan akrabnya), sempat pingsan di tengah pelaksanaan tes Bintara Polri, disebabkan ia tak sarapan lantaran sangu yang diberikan sang kakak sebesar Rp200 ribu hilang dalam perjalanan Samarinda-Balikpapan.

Seperti sudah jalan hidupnya, Sanju ditolong seorang kawan yang sama-sama mendaftar tes Bintara Polri, hingga ia bisa terus mengikuti seleksi menjadi abdi negara berseragam coklat itu.

Sanju saat berolahraga untuk menjaga stamina tubuhnya sambil menunggu panggilan di Sekolah Polisi Negara di kawasan Kutai Kartanegara. Ft. Zulkarnain

Kegiatan Sanju sebelum lolos tes Bintara Polri setiap harinya, selain berolah raga di sekitar rumah kontrakan di kawasan Jalan Sejati Gang Masjid Sifa Kelurahan Selili Kecamatan Samarinda Ilir, ternyata membantu tetangga yang berjualan pentol keliling di Pasar Malam.

“Ya untuk tambah biaya hidup sehari-hari,” ungkap Sanju.

Olah raga yang kerap ditekuni Sanju dengan joging dan angkat beban ringan, rutin dilakukannya selama kurang lebih dua jam sehari.

Itu sengaja dilakukan Sanju, untuk menjaga kondisi tubuhnya agar tetap prima saat nanti mulai menjalani Pendidikan Bintara Polri.

Sepintas tidak ada yang spesial terlihat pada diri Sanju, bahkan warga sekitar mengenalnya sebagai sosok seorang yatim piatu dan pembuat jajanan pentol goreng krispy.

Sejak lulus sekolah SMA Negeri 11 Samarinda tahun 2022 lalu, Sanju bekerja dengan tetangganya membuat sekaligus berdagang jajanan pentol di pasar malam dan pasar minggu.

Setiap kali berjualan, Sanju menerima upah sebesar Rp 50 ribu. Uang tersebut kemudian ia tabung sebagai modal awal saat akan mengikuti tes ujian masuk Bintara.

Sanju saat ini tinggal berdua dengan sang kakak Dwi Fitri Jalasari (25) di sebuah rumah kontrakan sederhana. Sejak kecil Sanju telah memiliki cita-cita untuk menjadi abdi negara.

“Untuk mewujudkan cita-cita sejak masih kecil hingga ingin membanggakan orang tua dan orang sekitar, saya ingin menjadi abdi negara,” terang Sanju kepada Busam.ID Senin (24/7/2023) saat dijumpai di rumahnya.

Berbekal pengalaman dua kali tes TNI namun gagal, tekad kuat dan semangat pantang menyerah ternyata telah sukses mengantarkan Sanju menjadi seorang calon Bintara Polri.

“Bulan Maret 2022 saya ikut tes TNI namun gagal karena masalah berkas, kemudian September 2022 kembali saya gagal lantaran kuotanya penuh. Berbekal dari dua kegagalan tersebut saya ikut tes polisi dan akhirnya keterima,” ucapnya.

Sementara Dwi Fitri sang kakak tak kuasa menahan tangis haru bercampur kegembiraan setelah mendengar Sanju lolos tes Pendidikan Polisi di Balikpapan.

“Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata soalnya perjuangannya setiap hari jogging, renang dan itu bukan apa-apa hingga lolos menjadi calon Bintara,” ucap Dwi.

Dwi Fitri Jalasari (25) kakak korban yang sudah memperjuangkan Sanju untuk lolos menjadi anggota Bintara Polri. Ft. Zulkarnain

Sebelumnya Sanju sempat menyerah dan mengatakan tidak sanggup ikut tes karena sempat gagal tes TNI.

“Mba saya mau daftar polisi soalnya kalau tahun depan sudah tidak bisa lagi lantaran syarat usia, cerita Sanju sebelum tes. Saya bilang kalau kamu yakin lolos, ikut lah tapi saya tidak ada uang buat biaya pendaftaran,” tutur Dwi.

Dwi Fitri mengaku sempat ragu lantaran keterbatasan ekonomi karena tidak mampu membiayai Sanju saat tes Pendidikan Polisi di Balikpapan.

Pekerjaannya saat itu menjadi admin di Dok Kapal di kawasan Pulau atas sebesar Rp 2 juta per bulan, tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup. Bahkan Dwi Fitri harus ekstra kerja dengan membuka les mengajari anak-anak berupah Rp 350 sebulan.

“Saat Sanju mau berangkat, saya kasih uang Rp 200 sekedar untuk biaya makan dan transportasi. Karena cuma itu yang bisa saya berikan sebab sudah tidak ada uang lagi yang saya pegang,” terang Dwi Fitri sambil berurai air mata.

Dwi Fitri mengaku sangat kuatir saat diberitahu kalau Sanju pingsan ketika menjalani tes kesehatan di Balikpapan.

“Saya dikabari sama Sanju kalau dia pingsan lantaran tidak sempat makan, uang yang saya berikan Rp 200 ribu hilang dalam perjalanan menuju Balikpapan,” lirihnya.

Beruntung, rekan Sanju saat tes yang juga asal Samarinda, membantunya membelikan makan dan membawanya untuk menuju Polda Kaltim menjalani tes Pendidikan Polisi.

“Temannya itu membelikan dia makan tiap hari serta membawanya ke tempat tes, sedihnya teman Sanju yang membantu adik saya itu, gagal lolos menjadi anggota Bintara Polisi,” terangnya.

Usai test, Sanju kemudian pulang ke Samarinda sambil menunggu hasil pengumuman yang rencananya disampaikan tanggal 5 Juli 2023, namun ternyata diundur ke tanggal 12. Dari tanggal 12 kemudian diundur lagi ke tanggal 18, terakhir pengumuman kelulusan diundur menjadi tanggal 19 Juli 2023.

“Dia bilang tidak apa-apa diundur untuk memberikan dia kesempatan salat Tahajjud dan berdoa agar diberikan kelulusan,” ucap Dwi menirukan perkataan Sanju.

Namun saat hendak berangkat ke Balikpapan mengikuti pengumuman kelulusan menjadi anggota Bintara Polri, Sanju terkendala dengan biaya dan nyaris tidak bisa berangkat.

“Boro-boro punya uang, mau berangkat ke terminal saja tidak ada uangnya. Apalagi naik bis perjalanan ke Balikpapan,” kata Dwi Fitri.

Sempat putus asa dan hanya bisa pasrah menunggu hasil pengumuman kelulusan dari Samarinda karena tidak bisa berangkat lantaran faktor ekonomi.

“Dalam kondisi tersebut, temannya bernama Putra yang ikut tes dari Samarinda menelponnya, mengajaknya ke Balikpapan naik motornya. Alhamdulillah ada saja jalannya, meskipun tidak membawa uang sepersen pun, Sanju bersama temannya tersebut berangkat hingga selesai pengumuman dan kembali ke Samarinda juga menumpang temannya itu,” ucap Dwi Fitri sambil menyeka air matanya yang terus mengalir.

Kini Sanju hanya tinggal menunggu panggilan untuk mulai menimba ilmu di Sekolah Polisi Negara (SPN) di Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara.

“Harapan terbesar Sanju adalah bisa mengunjungi makam ibu yang meninggal tahun 2019 saat Sanju di Samarinda. Sanju ingin sekali menyekar makam ibu karena keterbatasan dana sehingga tidak bisa berangkat ke Blitar Jawa Timur,” pungkasnya. (Zul)

Editor : A Risa

Baca berita BusamID seputar Kaltim, Samarinda dan lainnya melalui Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *