Samarinda, Busam.ID – Wartawan pertama Kaltim Oemar Dahlan, diusulkan bubuhan Wartawan Legend Bedapatan dalam acara Outlook Pers Kaltim 2022, menjadi pahlawan nasional. Mengingat jasanya dalam merintis dunia pers di Kaltim juga rasa nasionalismenya, sementara pada masa itu Indonesia tengah berusaha jejak dalam kemerdekaan yang baru diraihnya.
Oemar Dahlan adalah penulis torehan Presiden RI 1 Ir H Soekarno di koran Masjarakat Baru 18 September 1950 yang memicu semangat nasionalis di kalangan masyarakat Kaltim. Tulisan itu berbunyi “Kemerdekaan bukan jaminan bahwa segala sesuatu akan menjadi beres. Kemerdekaan sekadar memberi kemungkinan untuk keberesan itu. Kemungkinan itu tidak ada dalam alam penjajahan”.
Dikenal sebagai wartawan 5 zaman, Oemar Dahlan adalah pria asli Kaltim kelahiran 12 Desember 1913. Menjadi wartawan pertama di Kaltim dengan mengikuti kursus jurnalistik 6 bulan di Bandung pada saat masih berusia 17 tahun, pada 1933 Oemar menjadi reporter lalu redaktur di harian Pewarta Borneo, surat kabar Melayu Tionghoa di Samarinda yang juga tercatat sebagai koran harian pertama di Kaltim. Isinya empat halaman tanpa muatan foto.
Sebagai tokoh senior, Oemar Dachlan dikenal berkoneksi dengan banyak tokoh nasional. Sebut saja mantan Wakil Presiden Adam Malik, yang dikenal sahabat karib Oemar Dahlan. Selain itu Oemar Dahlan juga dekat dengan begawan pers Indonesia seperti Rosihan Anwar, Mochtar Lubis hingga Jacob Oetama.
Alasan bubuhan Wartawan Legend Bedapatan mengusulkan Oemar Dahlan sebagai pahlawan nasional, dilatari sikap nasionalis wartawan pertama Kaltim ini pada kedaulatan Indonesia. Pada masa awal kemerdekaan RI, kala itu Belanda belum rela atas kemerdekaan negara yang sudah dijajahnya 350 tahun ini. Belanda berusaha kembali menjajah Indonesia dengan membonceng sekutu. Belanda berusaha memecah belah negara yang baru mendeklarasikan kemerdekaannya ini.
Belanda merayu Oemar Dahlan untuk bergabung dalam Delegasi Kaltim di Konferensi Bizonder Federal Overlag (BFO) di Bandung pada 1948. Oemar Dachlan yang memiliki akses informasi luas memahami bahwa BFO hanya alat Belanda melumpuhkan RI. Belanda sedang memecah-belah RI dengan membentuk negara atau daerah yang berdiri sendiri. Kaltim waktu itu dibentuk menjadi federasi bernama Gabungan Kesultanan Kaltim. Dua orang yang diminta Belanda, Oemar Dahlan dan Abdoel Moeis Hassan, menolak dengan tegas. Belakangan Abdoel Moeis Hassan kemudian ditunjuk sebagai Gubernur Kaltim kedua pada 1962.
Menanggapi usulan untuk mengangkat Oemar Dahlan sebagai pahlawan nasional, Wagub Kaltim Hadi Mulyadi yang hadir di acara tersebut menanggapi positif. Sayangnya kata Hadi, sekiranya Pemprov mengiyakan, penentuan di tingkat pusat tidak serta merta sama dengan keinginan daerah.
“Kami akan proses usulan ini hingga bisa kita anggap positif di tingkat provinsi. Namun di tingkat pusat, penentuan pahlawan nasional ini masih akan ditelisik lagi dan belum tentu disetujui,” ungkap Hadi.
Begitu pun, Hadi mengaku pihaknya (Pemprov) akan memproses usulan mengangkat Oemar Dahlan sebagai pahlawan nasional ke pusat. Gol tidaknya di pusat, Hadi mengatakan bukan wewenangnya.
Sementara itu Firdaus putra Oemar Dahlan, yang hadir di acara menanggapi haru usulan bubuhan Wartawan Legend Bedapatan agar Oemar Dahlan ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Firdaus yang berkecimpung di Dinas Kesbangpol Kaltim mengucapkan terimakasih pada bubuhan Wartawan Legend Bedapatan atas kesan baik pada orangtuanya. (tw/an)








