Samarinda, Busam.ID – Proyek pembangunan Terowongan Gunung Manggah (TGM) untuk mengatasi kemacetan di jalan Sultan Alimuddin, sampai detik ini masih nihil pengerjaan.
Kondisi itu disebabkan pelaksana proyek yakni PT Pembangunan Perumahan, sedang menunggu kedatangan material beton berbentuk setengah lingkaran yang dipesan dari Jawa.
Pengamat Perencanaan Wilayah dan Pengembangan Infrastruktur, Ir Dana Adisukma ST MScIAP, menilai ada beberapa alasan kenapa pemerintah menggunakan material dari Jawa, tidak dibuat mandiri di Kalimantan Timur.

“Ini proyek pertama untuk pembuatan mountain tunnel ya, tidak hanya pertama di Kota Samarinda namun juga di Kaltim. Saya rasa memang ada beberapa faktor kenapa harus menggunakan material dari Jawa. Pertama faktor bahan dasar baku, pengalaman dan juga faktor keamanan sangat penting,” jelasnya kepada BusamID Selasa (28/2/2023).
Ia mengatakan perbedaan bahan dasar baku yang digunakan untuk pembuatan material sangat penting, mengingat Samarinda belum pernah membangun terowongan dengan teknis berada di bawah gunung.
“Tekstur tanah kita di sini berbeda dengan yang ada di Jawa, jadi pemilihan bahan dasar baku materialnya juga saya rasa harus benar-benar aman untuk jangka panjang. Tidak bisa asal pilih material. Karena jika material tidak sesuai, maka dikhawatirkan akan memberikan efek yang buruk di masa depan,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, hal ini sekaligus sebagai pembelajaran untuk teknis pembuatannya di Kaltim.
“Ini yang pertama, mungkin nanti jika ada proyek-proyek serupa, Kaltim sudah bisa mengolah materialnya secara mandiri. Oleh karena itu pengalaman juga dinilai penting. Sama seperti pembangunan jalan, mungkin dulu material aspal kita masih belum bagus. Seiring waktu pasti ada pembenahan dan lainnya sehingga pembangunan jalan aspal terutama di Kota Samarinda, meningkat lebih bagus. Kurang lebih seperti itu perumpamaannya,” imbuh Dana.
Secara terpisah, Kepala Dinas PUPR (Pekerjaan Umum & Penataan Ruang) Samarinda, Desy Damayanti sebelumnya menjelaskan, bahwa pekerjaan proyek akan mulai dilakukan setelah proses cetak beton dengan bentuk setengah lingkaran di Jawa selesai.
“Untuk saat ini memang belum ada pekerjaan, karena nyetak betonnya itu di Jawa. Selama betonnya itu belum jadi belum bisa dilakukan penggalian di titik inletnya. Kalau digali sekarang, khawatir malah runtuh tanahnya,” terang Desy pada berita sebelumnya. (RYAN)
Editor : Risa Busam.ID












