Tidak Buang ke Kiri, Sopir Kurang Jam Terbang
Samarinda, Busam.ID – Ternyata selain bak dipanjangkan dari kondisi awal 7,5 meter menjadi 12,30 meter juga modifikasi pada sumbu roda. Awalnya mengacu surat kendaraan, tronton maut KT 8345 AJ memiliki dua sumbu roda. Pada saat kejadian Jumat (21/01/22) didapati tronton tersebut memiliki tiga sumbu roda.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Dirjen Hubda Kemenhub) Budi Setiyadi mengungkap fakta lain. Sasis tronton maut dipanjangkan 20 cm.
Sementara sistem pengereman tronton maut menggunakan Air Over Hydraulic (AOH), atau sistem rem angin dan minyak rem sekaligus.

Belum diketahui apakah modifikasi panjang dan sumbu roda memengaruhi sistem pengereman.
Pengakuan sopir tronton MA (48), Ia sudah beberapa kali menginjak pedal rem. Namun tronton bermuatan kontainer berisi kapur 20 ton tersebut tak bisa berhenti.
Kompresor rem angin kehilangan tekanan sesampainya di turunan ketiga, bablas sampai 100 meter melewati lampu merah (traffic light).
“Habis anginnya rem ‘ngeblong’,” bablas Budi.
Akhirnya truk meluncur bebas karena kehilangan fungsi rem, ditambah kondisi jalan yang menurun.
Sadar rem tak berfungsi, MA berupaya menurunkan gigi persneling dari 4 ke 3. MA berharap mendapat bantuan engine brake namun tetap tak berhasil.
Dengan persneling netral, akhirnya tronton meluncur deras lalu melibas semua kendaraan di depannya yang tengah mengantri lampu merah. Tronton maut ini menabrak 6 mobil dan 14 sepedamotor hingga sebagian besar kendaraan nyaris tak berbentuk. Korban jiwa 4 meninggal di tempat dan 31 korban luka-luka. Dari 31 korban luka-luka tersebut, 1 orang sempat dikabarkan kritis karena mengalami pendarahan di otak, 4 orang lainnya mendapat tindakan operasi dan lainnya luka kategori ringan.
Laka latas di turunan simpang Rapak itu, sebenarnya bukan kali pertama. Di tahun 2021 bahkan sempat terjadi beberapa kali laka lantas di lokasi turunan landai itu. Dibanding sebelumnya, laka lantas pada Jumat (21/01/22) itu merupakan tragedi paling memilukan dan membuat shock warga Balikpapan, di mana 20 kendaraan tergulung dan terpental setelah diseruduk tronton maut. Juga 3 pengendara sepedamotor yang terjatuh kemudian ikut terlindas tronton bersama kendaraannya. Satu korban tewas di tempat merupakan sopir mobil lapangan proyek Pertamina yang mobilnya terpental hingga ringsek tak karuan. Korban terjepit di antara ringsek mobil yang dikemudikannya.
Dari rekaman CCTV, kejadian pukul 06.15 Wita itu, sebenarnya sebelum menyeruduk 20 kendaraan di depannya yang tengah mengantri lampu merah, tronton maut bisa membuang badan ke sebelah kiri yang relatif kosong dan jalur pepohonan. Sayangnya setelah mengetahui rem-nya ngeblong, sopir tidak mengambil tindakan cepat dengan membuang badan kendaraan ke sebelah kiri supaya terminimalisir dampak kecelakaan.
Menanggapi situasi tersebut, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan, sulit mengambil keputusan di saat genting. Tapi hal itu juga berkaitan dengan pengalaman sang sopir.
“Ini agak susah karena berhubungan dengan jam terbang. Kalau pengemudi yang jam terbangnya tinggi dia bisa mengambil tindakan atau keputusan yang paling tidak tingkat kerugiannya kecil,” terang Sony (21/1/1022).
Ditambahkan mengapa sopir memilih jalur lurus dan tidak mengambil tindakan buang badan itu harus ditanya ke pihak terkait. Tapi ada dasar asumsi mengapa hal itu dilakukan.
“Ada asumsi begini, ketika dia tidak memiliki jam terbang banyak dia akan berpikir untuk mengamankan dirinya. Ada pohon ada kendaraan, pikirannya kalau nabrak pohon fatal pasti, kalau kendaraan tidak fatal. Karena kendaraan akan kalah dan bergeser,” ungkap Sony.
Karena itu kata Sony, pentingnya jam terbang sopir saat membawa kendaraan besar. Sebab dengan tingkat risiko yang besar maka otomatis memikul tanggungjawab yang makin besar.
“Di sini saya bisa bilang pentingnya jam terbang yang tidak sedikit. Karena dalam kejadian itu sopir tidak berpikir keselamatan orang lain,” tandas Sony. (sumber kompas.com/an)








