Samarinda, Busam.ID – Terkait pembangunan Terowongan Gunung Manggah (TGM) di Kota Samarinda belum menemui titik terang. Pasalnya pembebasan lahan TGM yang sudah diresmikan pembangunannya Jumat (20/1/23) itu belum menemukan kesepakatan.
Setelah mengunjungi lokasi di Jalan Sultan Alimuddin, tim Busam.ID bertemu dengan satu dari tujuh pemilik lahan yang terdampak pembangunan TGM tersebut.
Welly Suginarto, pemilik lahan yang berada persis di sebelah kanan pembangunan TGM, menolak untuk menjual lahan tanah beserta bangunannya lantaran tidak puas dengan hasil penilaian yang diberikan oleh pihak KJPP (Kantor Jasa Penilai Publik).

“Untuk saat ini saya masih menolak, karena menurut saya harganya masih tidak masuk dan tidak sesuai,” ucapnya kepada Busam.ID, Senin (8/5/23).
Tim Busam.ID juga turut diperlihatkan hasil penilaian KJPP atas lahannya tersebut, tertulis dalam kolom perihal yakni Penyampaian Nilai Ganti Kerugian dan tertanda pada tanggal 17 April 2023.
Ada pun dari surat tersebut, luas tanah yang terhitung sebesar 353 meter persegi senilai Rp 1.123.276.120 dan untuk bangunan terhitung dengan nilai Rp 529.480.000. Dari paparan tersebut, maka nilai yang ditawarkan untuk Welly atas ganti rugi pembebasan lahan TGM sebesar Rp 1.652.756.120.
Pada saat diwawancarai, Welly menyampaikan masih belum menyetujui nilai penawaran KJPP karena di lahannya saat ini telah terbangun usaha sarang walet yang produktif.

“Saya beli lahan ini tahun 2007, kemudian saya bangun 2 bangunan, 1 bangunan ruko 2 pintu yang di pinggir jalan depan, 1 lagi bangunan untuk sarang walet serta sedikit untuk space rumah tinggal,” papar Welly.
Menurutnya, dengan nilai ganti rugi yang diberikan, menurut Welly tidak menutup modal saat ia membeli lahan dan juga bisnis sarang walet yang telah ia miliki saat ini.
“Saya juga tidak ada niatan jual, kalau dilihat nilai yang ditawarkan tersebut, untuk saat ini saya sekeluarga belum menyetujui, bisnis sarang walet saya juga cukup menghasilkan, mungkin ada sekitar Rp 10 juta hingga Rp 25 juta per 3 bulannya. Dan usaha sarang walet itu, volumenya bertambah terus, bukan makin sedikit. Belum lagi modal saya bangun sekat di dalam gedung walet itu, modalnya udah ratusan juta,” jelas Welly.
Ia menjelaskan bahwa dirinya tetap bersikukuh tidak akan menjual lahannya jika harga ganti rugi yang ditawarkan tidak naik.
“Saya sudah lelah mas rapat dan koordinasi terus, kemungkinan tidak akan saya jual saja jika harga ganti rugi yang ditawarkan masih di kisaran itu juga,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Koordinator Bina Marga Pekerjaan Umum & Penataan Ruang (PUPR) Pengelolaan Tunnel Kota Samarinda, Rezky saat dikonfirmasi perihal penolakan jual lahan warga di areal TGM ini menjelaskan, pihaknya saat ini masih berkoordinasi dengan Tim Badan Pertanahan.
“Sementara masih diproses untuk pembebasan lahan di inlet TGM, sedang fokus untuk hal tersebut, kami juga saat ini masih berkoordinasi dengan Tim Pertanahan,” tutup Rezky. (RYAN)
Editor : Risa BusamID












