Samarinda, Busam.ID – Kasus bunuh diri belakangan ini santer diberitakan terjadi di Kota Samarinda.
Terakhir menimpa salah seorang mahasiswa PTN terbesar di Samarinda yang mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri dengan menggunakan kabel listrik.
Situasi ini ditanggapi Psikolog Klinis di Biro Psikologi Matavhati, Yulia Wahyu Ningrum, M.Psi. Psikolog ini mengatakan dalam setahun kasus bunuh diri di Indonesia mencapai angka 1500 kasus dan kebanyakan diantaranya terjadi pada kalangan para remaja.
Menurut wanita yang sudah 15 tahun menjadi psikolog ini, pemicu seseorang mengakhiri hidup disebabkan beberapa faktor terutama masalah psikologis.
“Cenderung masalah psikologis kalau terjadi pada individu dari usia 15 tahun hingga 30 tahun. Tapi kalau masalah fisik lebih ke orangtua yang sudah uzur, yang sudah sepuh,” terang Yulia.
Kasusu psikologis biasa ditemukan karena gangguan mental, depresi, cemas gangguan bipolar (gangguan jiwa yang umumnya mempengaruhi mood atau suasan hari) serta kasus anak akibat pelecehan seksual yang menyebabkan seseorang ingin melakukan bunuh diri.
“Kalau usia remaja pada umumnya berpikir memiliki nyawa seribu, dengan bunuh diri mereka beranggapan pasangan atau pacar menyesal, jadi seperti merasa udahlah hidup saya itu sangat rumit, jadi dengan bunuh diri selesai masalah. Dan faktor lainnya berhubungan dengan keluarga kurang harmonis, kebanyakan kasus seperti ini terjadi kepada orang-orang yang pendiam karena tidak tau mau cerita ke siapa,” jelasnya.
Kalau ciri orang punya pikiran hendak bunuh diri, biasanya pendiam, tidak tahu mau cerita ke siapa dan merasa kalau dirinya sangat menderita ditambah dengan tidak ada teman untuk mencurahkan ceritanya yang membebaninya sehingga tidak ada solusi baginya.
“Jadi kalau orang yang pendiam memang susah percaya dengan orang, mereka menganggap kalau bunuh diri sesuatu yang dianggapnya nyaman dan masalah selesai,” bebernya.
Para remaja menurut Yulia, jika memiliki masalah tidak tahu solusinya apa. Kalau di Indonesia pemahaman problem solving masih kurang, anak-anak belum diajari sejak dini, tapi kalau sudah besar masih merasa butuh orang lain dan stigmanya pun kalau ke psikolog asumsinya selalu mengarah yang negatif.
“Saya beberapa kali dapat klien remaja, remaja sering baca internet, kalau kesehatan mental pasti hubungannya ke psikolog atau ke psikiater. Pada dasarnya mereka sudah meminta kepada orangtua untuk dibawa ke psikolog, namun tanggapan orangtua mengganggap bahwa hal tersebut memalukan dan beranggapan dinilai kurang waras. Orang tuanya mengakui sejak 2 tahun lalu sudah diminta untuk diantarkan ke psikolog, tapi sampai sudah seharusnya dibawa ke rumahsakit jiwa baru sadar dan mau dibawa ke psikolog” tambahnya.
” Kalau sudah tergolong parah harusnya dilarikan ke psikiater dan diperlukan obat-obatan untuk mengatasinya. Kejadian yang belakangan terjadi disebabkan karena malu tidak bekerja selama setahun, diputusin pacar padahal masalah simple. Cuma bagi orang yang memiliki masa lalu menyedihkan seperti ditinggalkan orangtuanya kemudian dia sudah sepenuhnya percaya dengan orang terdekatnya namun mau ditinggalkan. Tapi benar kalau dia punya masalah seperti brokenhome dan sebagainya itu akan terasa sakit banget ditinggal, itu pengalaman yang saya tangani di anak remaja,” bebernya.
Kalau dari ciri-ciri seseorang mengalami depresi, beban mental yang berat dan terganggu mentalnya, Yulia mengatakan terjadi perubahan sikap, seperti jadi orang pendiam, yang bagi seorang yang pendiam jadi menjauh, lebih mudah terbawa emosi, terkadang orang tersebut bercerita tentang kegelisahannya, sering bicara tentang kematian dan tidak memiliki gairah untuk hidup serta kurang selera dengan makanan dan gangguan pada tidurnya.
“Kalau dalam dua minggu berturut-turut sedih terus itu termasuk depresi, terus dia tidak mau terlibat dengan hubungan keluarga, sering menyendiri karena dia berpikir keras, kalau aku mati ini gimana caranya, biasanya dia menyimpan obat-obat terlarang atau kayak misalnya alat-alat yang bisa membuat dia bunuh diri seperti silet, garpu, tali, obat dengan jumlah besar,” ucapnya.
Langkah yang bisa dilakukan jika menemukan orang yang memiliki ciri seperti tersebut, diajak berbicara dan membantu menyelesaikan permasalahannya jika mampu.
“Kalau berbicara tidak perlu kita menggunakan agama-agama, karena terlalu jauh bagi dia, misalnya ajak diskusi, apa yang disampaikan didengerin saja, intinya jangan menasehati dan katakan jika kamu perlu sesuatu aku ada,” terangnya.
Sangat meneydihkan dalam kurun waktu 5 tahun belakangan ini mudah sekali untuk bunuh diri karena kurangnya sosialisasi dan lebih banyak berinteraksi secara perseorangan.
“Ajak ke psikolog, sekarang sudah banyak psikolog online yang gratis yang bisa dibuka di internet, minta dia untuk ke psikolog agar tidak memperparah kondisinya,” tutupnya.(zul)
Editor : Risa Busam.ID












