Samarinda, Busam.ID – Peristiwa alam berupa Gerhana Matahari Hibrida, ditanggapi sejumlah elemen masyarakat dengan berbagai cara.
Mulai dari membidik fenomena alam itu dalam lensa seperti yang dilakukan Komunitas Hunting Nyasar di sejumlah spot, sampai mengeker peristiwa alam yang terjadi paling cepat 26 tahun sekali itu dengan ikut ‘ngintip’ teleskop lembaga pengamat seperti BMKG.
Yang jamak, masjid menggelar Sholat Sunah Gerhana seperti di Islamic Center kemarin, Kamis (20/4/23) siang.

Gerhana matahari diketahui terdiri dua macam yang terjadi dalam satu waktu secara berurutan.
Dimulai dari gerhana matahari cincin dan selanjutnya gerhana matahari total.
Berdasarkan data Badan Meteorologi dan Geofisika Samarinda yang beredar di media sosial menyebut, awal gerhana matahari diperkirakan terjadi pukul 10.51 Wita kemudian puncaknya di pukul 12.17 Wita.
Akhir gerhana terjadi pada pukul 13.45 Wita.
Sebagian masyarakat Kota Samarinda turun ke tanah untuk menyaksikan fenomena spesial tersebut. Seperti halnya Santi warga Loa Bakung. Dengan menggunakan kacamata warna hitam, Santi menatap ke matahari untuk melihat secara langsung fenomena tersebut.
“Tidak bergitu terlihat jelas fenomena gerhana mataharinya karena tertutup awan,” ucap Santi.
Selain itu sebagian masyarakat Kota Samarinda menggelar shalat gerhana di sejumlah masjid, salah satunya di Masjid Islamic Center yang terletak di Jalan Slamet Riyadi.
Puluhan orang nampak khusuk melaksanakan shalat gerhana. Bertindak sebagai imam Ustadz H, Abdurahman Al Hafiz, pengasuh pondok pesantren Darul Mustofa, Sangatta. Sedangkan khatib Habib Muhammad Bin Muhdhor Al ‘Athos.
Muhammad Bin Muhdhor Al ‘Athos menyebut gerhana matahari merupakan ciptaan dan keajaiban Allah SWT.
“Kita bisa memberikan makna terjadinya fenomena yang luar biasa ini yang terjadi tidak seminggu atau sebulan sekali, atas kehendak Allah SWT. Maka memaknai dari pada kejadian ini adalah bisa menyatukan umat Nabi Muhammad SAW berbondong-bondong datang ke masjid bersama-sama kembali kepada Allah SWT. Sama-sama mengacu bahwasanya tidak ada yang hebat tidak ada yang luar biasa tidak ada yang mempunyai kekuatan selain dari pada kekuatan Allah SWT,” terangnya kepada Busam.ID.
Muhammad Bin Muhdhor Al ‘Athos berharap, dengan fenomena gerhana matahari insan dapat menyikapi diri sendiri, meningkatkan iman dan kualitas kepada Allah SWT serta menjaga eksistensi persatuan Republik Indonesia.
“Maknanya kita manusia lemah dan Allah SWT Maha Perkasa, jadi bagaimana kita menyikapinya dengan mengevaluasi diri kita, meningkatkan iman dan kualitas kepada Allah serta menjaga eksistensi persatuan Republik Indonesia dimulai dari daerah, kota maupun provinsi,” pungkasnya. (Zul)
Editor : Risa Busam.ID








